Monday, 5 April 2021

Prinsip Chi (Qi) pada manusia

Prinsip Yin dan Yang menjadi pegangan kuat kepercayaan kuno orang China selama berabad-abad yang memiliki inti kepercayaan di dalam hukum keseimbangan Yin dan Yang.

Hal ini digambarkan secara jelas dalam I Ching (Kitab Perubahan) yang dimiliki oleh orang China selama berabad-abad. Prinsip Yin Yang ini menekankan akan keharmonian dari alam semesta atau kosmologi (Jung Young Lee, 1996).

Dari prinsip Yin Yang ini muncul energi atau energi “penggerak” dari semua perubahan yang terjadi di dalam alam semesta ini yang disebut dengan “ch’i”. Ch’i inilah yang dianggap nafas atau jiwa manusia yang menjadikan manusia itu hidup dan dinamik.

Konsep pemikiran China tentang Chi dikembangkan oleh para ahli filsuf mereka seperti Lao-tzu, Kong Fu Tzu (Konfusius), Men Zi (Mencius) dan lainnya antara abad enam dan empat sebelum Masehi (Lee, J. Y. 1996). Menurut Kamus Besar China-Indonesia, ch’i (qi) berarti gas, udara, nafas, bau, hawa/cuaca, sikap, semangat, jiwa, kemarahan, dan hina (Mah, 2004).

Menurut Simpkins & Simpkins (2004), kata ch’i sama dengan kata Yunani Pneuma dan kata Sansekerta Prana yang berarti napas, pernapasan, angin, dan spirit yang vital, jiwa. Menurutnya, segala sesuatu di alam semesta, baik yang bergerak dan tidak bergerak, merupakan bagian dari samudra luas ch’i. Segala sesuatu adalah ch’i baik materi padat maupun energy (Kamus Besar China – Indonesia. 1995).

Sedangkan menurut Skinner (2002), “Ch’i, merupakan tenaga yang vital, mengisi dunia pemikiran pengikut filosofi China. Ch’i adalah Tenaga Kosmik yang menghidupkan dan menginfus (memberi nafas) semua hasil cipta alam, memberikan energi kepada manusia, kehidupan kepada alam, pergerakan kepada air dan pertumbuhan kepada tanaman.

Dinamika manusia adalah karena adanya Chi (Qi), sedangkan Ch’i berada di dalam diri orang.( Simpkins & Simpkins, 2004)

Menurut Rossbach (1984) ada dua macam Chi (Qi). Dia menyatakan bahwa dalam tulisan Cina Chi membawa dua makna iaitu kosmik dan manusia. Chi kosmik mengandung air, wap, gas, cuaca, dan daya (force). Chi pada manusia pula termasuklah nafas, aura, adab dan tenaga. Kedua-dua jenis Chi ini tidak terpisahkan. Chi pada manusia dipengaruhi oleh langit dan bumi.

Lee (1996) memberikan pengertian Chi bahwa Chi dari segi kosmik dinyatakan sebagai pemikiran Chi, tenaga penting yang merupakan kuasa dan intipati badan. Chi hampir sama dengan ruh, dalam Hebrew dikatakan sebagai “ruach” dan dalam Greek dikatakan sebagai “pneuma” kedua-duanya diterjemahkan sebagai angina atau nafas.

Dari beberapa definisi di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa ch’i dapat diartikan sebagai nafas, angin, roh atau jiwa. Chi ini juga menunjuk kepada nafas atau jiwa manusia dan Ruh Kosmis yang menghidupkan dan memberikan energi di dalam mempertahankan kehidupan di dalam dunia ini.

DrIsbah, Teras Jernang, 05-04-2021

Rujukan

Jung Young Lee, J. Y. 1996. The Trinity in Asian Perspective. Nashville : Abingdon Press

Kamus Besar China – Indonesia. 1995. Beijing : Pustaka Bahasa Asing, ms. 673

Mah, Yeow-Beng. 2004. “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004, 344

Rossbach, S. 1984. Feng Shui. London : Rider, ms. 23

Simpkins, C. A. & Simpkins, Annellen. 2004. Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah. Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, ms. 106

Skinner, S. 2002. Feng Shui.Semarang : Dahara Prize, 2002, ms. 39.

Yun, D. C. 1981. Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions (Ed. Keith Crim; Nashville : Abingdon, ms. 738

APAKAH KESIHATAN LESTARI?

Kesihatan Lestari ialah Kesihatan Yang Berpanjangan. Mungkin ada sedikit sakit ringan kadang-kadang, tetapi pada masa-masa yang lain kesihatan kita baik sepanjang masa. Bagaimana mencapainya?

Pada diri manusia ada dua unsur yang sangat penting iaitu jasad dan ruh. Kedua-duanya saling memerlukan. Penciptaan jasad dan peniupan roh ke dalam jasad tersebut dalam Surah As Sajdah (32), ayat 9.

“Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya, serta meniupkan padanya, ruh ciptaanNya, dan ia mengurniakan kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (akal fikiran), (supaya kamu bersyukur), tetapi amatlah sedikit kamu bersyukur.” (As Sajdah (32) : 9).

Persoalan yang mendalam tentang kewujudan jasad dan ruh boleh dilihat dalam Agos Mustafa (2014). Beliau memberikan kupasan yang mendalam tentang jasad, jiwa (nafs) dan ruh, namun dalam tulisan ini kita hanya akan menyatakan bahwa jasad dan ruh adalah ciptaan Allah SWT.

Dalam Surah Al-Isra (17) ayat 85, Allah menyatakan bahwa informasi tentang ruh hanya sedikit sahaja diberikan kepada manusia, sementara dalam Surah Az Zumar (39), ayat 42, Allah menyatakan tentang jiwa. Allah memegang jiwa ketika seseorang itu mati dan Dia melepaskan jiwa yang lain ketika bangun dari tidur. Jadi, kita boleh membuat kesimpulan bahwa terdapat perbezaan antara ruh dan jiwa. Istilah ruh dalam Al-Quraan hanya muncul beberapa kali sementara istilah jiwa muncul ratusan kali (Agos Mustafa, 2014, mukasurat 205).

Menurut Abdul Mujib & Yusuf Mudzakir (2003), nafs (jiwa) dalam khazanah Islam memiliki banyak pengertian. Nafs dapat berarti jiwa (Soul, Psyche), nyawa dan lain-lain. Semua kekuatan yang ada pada nafs (jiwa) bersifat tersembunyi, tetapi manusia dapat menguasainya jika manusia mengusahakannya. Setiap komponen yang ada memiliki daya-daya tersembunyi yang dapat menggerakkan tingkah laku manusia. Secara nyata nafs (jiwa) membentuk kepribadian, yang perkembangannya dipengaruhi oleh faktor dalaman dan luaran.

Ramai sekali ilmuwan Islam mencuba mengungkap rahasia tentang nafs (jiwa), salah seorangnya ialah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali melalui karya agungnya Ihya Ulum al-Din. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengupas secara mendalam mengenai karya Imam Al-Ghazali, kita hanya akan menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan jiwa yang memberikan dinamisma kepada manusia.

Ruh secara pengertian biologis, ialah benda halus yang bersumber dari darah hitam di dalam rongga hati yang berupa daging yang berbentuk seperti pohon cemara. Benda halus ini tersebar melalui nadi dan pembuluh balik pada seluruh bagian tubuh. Ruh jasmaniah ini mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak serta merasakan berbagai rasa. Ruh ini dapat diumpamakan sebagai lampu yang mampu menerangi setiap sudut organ. Inilah yang disebut nyawa. Dalam pengertian ini ianya bermaksud jiwa atau nafs seperti yang disebut dalam Abdul Mujib & Yusuf Mudzakir (2003). Ia dapat berfikir, mengingat, mengetahui dan sebagainya, ia juga penggerak bagi keberadaan jasad manusia, sifatnya ghaib.

Jiwa atau nafs ini dapat dikatakan sebagai fitrah asal yang menjadi esensi (hakekat) struktur manusia. Fungsinya berguna untuk memberikan motivasi dan menjadikan dinamisasi tingkah lakunya. Ruh ini membimbing kehidupan spriritual nafsani manusia.

Dalam Misykah Al-Anwar karya Imam Al-Ghazali yang telah diterjemahkan oleh M. Baqir (Al-Ghazali, 1993) menceritakan perihal ruh secara lebih mendalam dan tulisan ini tidak menjurus ke situ.

Kadang-kadang kata jiwa (al-nafs) dimaksudkan darah dan pada nyawa (hidup). Kata akal kadang-kadang dimaksudkan pada tempat berpikir, iaitu otak, dan jangan dimaksudkan pada kecerdasan dan pengertian dari pengatur badan, semua itu berhubungan dengan otak (Said Hawwa, 1995). Itulah substansi jiwa yang sebenarnya, sesuatu yang halus (lathifah) ketuhanan (Rabbaniyah) dan keruhanian (Ruhaniyah) murni, iaitu jiwa kecil (mikrokosmos) yang berfungsi untuk mengimbangi jiwa alam yang besar (makrokosmos).

Agos Mustafa (2014) pada mukasurat 205 membuat kesimpulan bahwa manusia tersusun dari tiga (3) lapisan kewujudan iaitu badan (jasad), jiwa (nafs) dan ruh. Badan adalah sesuatu benda yang ujud, jiwa adalah tenaga dan ruh adalah system maklumat. Badan dan jiwa ialah sesuatu yang mati, ianya hidup disebabkan adanya system maklumat yang bekerja padanya. Kalau tidak ada system maklumat yang menggerakkannya, badan dan jiwa akan menjadi alat-alat yang tidak mempunyai daya atau mati.

Ruh merupakan sesuatu yang dikurniakan Allah kepada manusia, makhluk ciptaanNya. Ruh membawa bersamanya sifat-sifat ketuhanan seperti hidup, berkehendak, mendengar, melihat, berbuat, kreatif, berbicara, dan lain-lain.

Dalam Surah Asy Syams (91) ayat 7 hingga 10, Allah menerangkan bahwa jiwa itu boleh diarahkan kepada ketakwaan dan juga boleh diarahkan kepada kefasikan bergantung kepada keinginan atau pilihan manusia itu sendiri.

“Demi diri manusia dan Yang menyempurnakan kejadiannya (dengan kelengkapan Yang sesuai Dengan keadaannya)” (Asy Shams, ayat 7). “Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan Yang membawanya kepada kejahatan, dan Yang membawanya kepada bertaqwa” (Asy Shams, ayat 8) “Sesungguhnya berjayalah orang Yang menjadikan dirinya - Yang sedia bersih - bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan)” (Asy Sahms, ayat 9), “Dan Sesungguhnya hampalah orang Yang menjadikan dirinya - Yang sedia bersih - itu kusut dan terbenam kebersihannya (dengan sebab kekotoran maksiat)” (Asy Shams, ayat 10).

Jiwa perlu dididik kearah ketakwaan melalui ruh yang dibekalkan Allah kepada kita agar hidup ini menuju kepadaNya dan tidak menuju kepada yang lain. Jika Allah mematikan system maklumat sepadu yang dinamakan ruh itu, maka badan dan jiwa tidak bermakna lagi kerana penggerak system maklumat sepadu itu sudah tidak ada.

Dialah Maha Mengetahui tentang ruh, namun tentang jiwa (nafs) boleh dikaji oleh ilmu kedoktoran. Terdapat perkaitan yang sangat rapat antara ruh dan jiwa.

Agar tidak menimbulkan kekeliruan, maka dalam tulisan ini kita memfokuskan kepada jiwa (an-nafs) sahaja sebagai alat yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia untuk menjalankan kegiatan hidup sehingga Allah memanggilnya kembali untuk menghadapNya.

Juga dalam tulisan ini kita akan cuba menerangkan konsep Qi (disebut Chi) sebagai tenaga yang bergerak dalam diri manusia dan melalui meridian manakah pergerakan itu berlaku. Juga akan disentuh tentang psiologi manusia dan mencari perkaitan antara konsep-konsep tersbut.

Setiap manusia dari dulu hinggalah kini terdedah kepada gelombang geomagnetik yang datang dari luar bumi dan reaksi yang terjadi dalam diri manusia yang kita sebut sebagai biomagnetik. Badan akan berinteraksi dengan gelombang luar dengan menggunakan kekuatan biologi dalaman manusia. Senaman kesihatan lestari Waitankung berfungsi mengaktifkan Qi dalam badan manusia bagi menghadapi serangan luaran dan sekaligus memperkuatkan system pertahanan badan (body immune system) agar serangan luar dan juga serangan dari dalam badan dapat dipatahkan dan sekaligus mengekalkan kesihatan yang berpanjangan (lestari).

Juga akan dimuatkan testimony para pengamal senaman Waitankung tentang keberkesanan senaman waitankung terhadap kesihatan mereka. DrIsbah, Teras Jernang, 05-04-2021

Rujukan

Abdul Mujib & Yusuf Mudzakir. 2003. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Ms. 46

Abdul Mujib & Yusuf Mudzakir. 2003. Op. cit., ms. 42

Abdul Mujib & Yusuf Mudzakir. 2003. Op. cit., ms. 52-53

Agos Mustafa (2014). Al-Quraan Inspirasi Sains. PADMA Press, Surabaya, Indonesia.

Ching, Julia. 1993. Chinese Religions. Maryknoll : Orbis Books, 1993, ms. 102

Hanna, D.B. 1995. Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ms. 78

Herlianto. 1990. Humanisme dan Gerakan Zaman Baru. Bandung : Kalam Hidup, ms. 70

Herlianto. 1999. Tenaga Dalam dan Penyembuhan Holistik – Tinjauan Iman Kristen. Bandung : Yabina, ms. 56

Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum Al-Din, Juz III, Op. cit., ms. 3

Imam Al-Ghazali. 1993. “Misykat Cahaya-cahaya” (terj.M. Bagir, dari judul asli “Misykat Al-Anwar), penerbit Mizan, Bandung, Cet. IV, ms. 80-82.

Jung Young Lee, J. Y. 1996. The Trinity in Asian Perspective. Nashville : Abingdon Press

Kamus Besar China – Indonesia. 1995. Beijing : Pustaka Bahasa Asing, ms. 673

Mah, Yeow-Beng. 2004. “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004, 344

Rossbach, S. 1984. Feng Shui. London : Rider, ms. 23

Said Hawwa. 1995. “Jalan Ruhani” (terj. Drs. Khairul Rafi’ M, Ibnu Thaha Ali, judul asli “Tarbiyatu Al-Ruhani”),Mizan, Bandung, ms. 48

Simpkins, C. A. & Simpkins, Annellen. 2004. Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah. Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, ms. 106

Skinner, S. 2002. Feng Shui.Semarang : Dahara Prize, 2002, ms. 39.

Yun, D. C. 1981. Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions (Ed. Keith Crim; Nashville : Abingdon, ms. 738

Kong, W. L. 2015. “Seminar Waitankung”. Sekinchan, Selangor.

Thursday, 14 May 2020

ISLAH NEGARA, BANGSA DAN AGAMA

Bagaimana kita membudayakan kebaikan (Islah) dalam masyarakat Malaysia? Kita ingin sangat agar dapat kita membudayakan kebaikan di kalangan masyarakat terutamanya dengan menhapuskan rasuah, ketidakadilan, menyemai nilai murni, akhlak yang mulia dan segala jenis kebaikan (Islah).

Dalam proses membudayakan kebaikan agar ianya menjadi kebiasan bagi segenap lapis masyarakat menghormati semua yang baik demi kemakmuran negara, jangan ada yang mementingkan diri sendiri dan keluarga dengan melakukan rasuah. Mengaut kekayaan negara dengan cara yang hina.

Jangan ada yang mengutamakan kepentingan diri melebih kepentingan negara, bangsa dan agama. Ini nampak jelas dalam isu menjual paspot antarabangsa Malaysia kepada warga asing. Ini suatu pengkhianatan terhadap negara. Juga kes lompat parti merupakan pengkhianatan kepada mandate yang rakyat umum berikan kepada parti tertentu.

Semua tindakan rasuah, menjual negara, lompat parti dan lain-lain fasad menggambarkan keadaan teruk akhlak masyarakat terhadap negara, bangsa, dan agama. Di mana jatidiri mereka terhadap masyarakat?

Mari kita mengislahkan masyarakat agar kita tidak kehilangan akhlak yang mulia dan berpada-padalah dalam mencari kehidupan dengan tiada rasuah dan menjual kepentingan negara kepada bukan warganegara. Sambil itu kita sama-sama menilai diri sendiri dalam bulan yang mulia ini apa lagi dalam 10 malam terakhir Ramadhan.


Tuesday, 6 February 2018

Empat belas panduan berbicara

Pepatah Melayu ada bermadah “terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata besar padahnya”. Melalui pepatah ini kita disuruh berhati-hati dalam menuturkan kata-kata. Juga ada yang bermadah, “terbakar hutan boleh dilihat, terbakar hati siapa yang tahu”.

Banyak yang mengenal ungkapan seperti ini: اللسان ليسات الجو فاء allisan laysat aljawafa'

“Lidah itu memang tidak bertulang”. Ini sesuai dengan salah satu firman Allah SWT, yang memiliki arti: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab : 70)

Jadi, apa saja adab berbicara dalam Islam yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Di sini dihuraikan empat belas (14) adab yang perlu dipatuhi bagi menjaga hubungan antara manusia:

1. Sebaiknya berpikir dahulu sebelum berbicara.

Ini sesuai dengan sebuah hadits dalam Bukhari-Muslim, menyebutkan bahwa: “Lisan orang memiliki akal timbul dari hati nuraninya. Maka ketika hendak berbicara, lebih dahulu dia kembalikan kepada nuraninya. Jika ada manfaat bagi dirinya, dia berbicara dan jika berbahaya, maka dia menahan diri. Sementara itu, hati orang bodoh berada di mulutnya, dia berbicara sesuai apa saja yang dia mau.”(HR. Bukhari-Muslim)

2. Sebaiknya berbicara jelas dan tak berlarut-larut.

Hal ini sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. “Bahwasanya perkataan Rasulullah saw itu selalu jelas dan dapat dipahami oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Daud)

3. Tidak berbicara yang mengandung kebatilan.

Ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam sebuah hadits. “Sesungguhnya seorang hamba berkata satu kata yang Allah SWT ridhai dan dia tidak mengira akan mendapatkan demikian sehingga dicatat Allah SWT, keridhoan-Nya bagi orang tersebut hingga nanti di hari Kiamat. Dan seorang lelaki berkata satu kata yang Allah SWT murkai yang tidak dikiranya akan berkata demikian, maka Allah SWT mencatat yang demikian itu hingga hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi)

4. Tidak mencela dan berkata keji

Adab berbicara dalam Islam lainnya adalah menghindarkan diri kita dari kebiasaan mencela dan berkata keji kepada orang lain. “Bukanlah seorang mukmin jika dia suka mencela, melaknat serta mengucapkan kata-kata keji.” (HR. Tirmidzi)

5. Hindari banyak bicara dan tidak sombong.

“Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan paling jauh dari aku nanti di hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara, orang pura-pura fasih dan orang yang mutafaihiqun”. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa itu mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Tirmidzi)

6. Hindari berkata-kata penuh dusta.

Setiap muslim sebaiknya mencirikan seseorang yang jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan. Hindari pembicaraan yang mengandung dusta di dalamnya. “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, jika dia bicara berdusta, jika dia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah dia berkhianat.” (HR. Bukhari)

7. Hindari ghibah, berkata tentang aib orang dan memanggi; dengan nama yang buruk.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Ghibah adalah kamu menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang dibenci.” Orang itu kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika sesuatu yang diceritakan tersebut memang benar ada padanya ?” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Kalau memang benar, itu namanya ghibah. Bila tidak benar, maka engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

8. Minimalkan bercanda dan tertawa.

Allah SWT memperingatkan untuk tidak bercanda dan tertawa yang terlalu berlebihan. Di sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah SWT kelak di hari Kiamat adalah orang-orang yang sering membuat manusia tertawa.” (HR. Bukhari)

9. Jauhi perdebatan sengit yang tidak bermanfaat.

“Aku menjamin rumah di dasar surga untuk orang yang menghindari berdebat walaupun dia benar, dan aku menjamin rumah di tengah surga untuk yang menghindari dusta sekalipun bercanda, dan aku menjamin rumah di puncak surga untuk yang akhlaknya baik.”(HR. Abu Daud)

10. Mengulangi perkataan yang memang penting.

Anas RA telah berkata : “adalah Rasulullah SAW bila berkata maka beliau mengulanginya hingga 3 kali sampai semua yang mendengarkan menjadi paham, dan jika Rasulullah SAW datang ke rumah seseorang maka beliau pun mengucapkan salam 3 kali.” (HR. Bukhari)

11. Sebaiknya adil dan berhati-hati ketika memuji.

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: “Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad dengan berlebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang tersebut, kemudian berkata: Nabi SAW memerintahkan kepada kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang suka memuji.” (HR. Muslim)

12. Tenang dalam berbicara.

Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW jika membicarakan suatu perkataan, jika ada orang yang menghitungnya, niscaya dia dapat menghitungnya.” (Mutta-faq’alaih)

13. Hindari membicarakan semua yang didengar.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Cukup menjadi sebuah dosa untuk seseorang yaitu jika dia membicarakan semua apa yang sudah didengar”. (HR. Muslim)

14. Hindari menguasai pembicaraan dan memotong pembicaraan orang lain.

Jika lawan bicara sedang berbicara, tunggulah sampai dia menyelesaikan pembicaraannya. Sebaiknya tidak langsung memotong atau menyela apa yang dia ucapkan. Ini untuk menjaga perasaan lawan bicara kita agar tidak tersinggung dan kesal. Orang lain akan menganggap diri kita tidak memiliki etika jika terus menyela pembicaraan. Itulah empat belas adab berbicara dalam Islam yang hendaknya kita fahami dan amalkan dalam kehidupan seharian.

Nukilan Dr Ismail Abdullah, isbah88@yahoo.com, 6 Feb 2018.


Saturday, 11 May 2013

Ahli Matematik Teragung Islam - Al Khawarizmi

ABU Abdullah Mohammad Ibn Musa al-Khawarizmi adalah Bapa Algebra. Tarikh lahir dan tarikh kewfatan beliau yang tepat tidak diketahui tetapi beliau dikatakan hidup di antara tahun 790 sehingga 840 Masihi. Ada juga yang menyatakan beliau lahir pada tahun 780 Masihi dan meninggal dunia pada tahun 850 Masihi.

Lebih dikenali sebagai Al Khawarizmi di kalangan ahli sains dan merupakan seorang ahli sains Islam yang terulung dalam ilmu matematik. Beliau juga merupakan seorang ahli astronomi dan geografi yang terkenal pada zamannya.

Gelaran Al Khawarizmi diberi kepada beliau sempena tempat kelahirannya di Khawarizm yang terletak di selatan Laut Aral. Beliau lahir di sebuah tempat bernama Kath iaitu sebahagian daripada daerah Khawarizm. Kath kini telah lenyap akibat ditenggelami pasir. Kehidupan kanak-kanaknya kurang diketahui tetapi ibu bapanya telah membawanya berhijrah ke Baghdad, Iraq ketika beliau masih kecil.

Al-Khawarizmi merupakan salah seorang ahli matematik yang teragung dan jasanya akan dikenang sampai bila-bila oleh seluruh masyarakat dunia. Beliau sebenarnya merupakan pengasas kepada beberapa cabang dan konsep asas matematik. Hasil kerjanya dalam algebra begitu cemerlang dan beliau tidak hanya mempunyai inisiatif terhadap subjek dalam pembentukan sistematik tetapi juga bertanggungjawab membangunkan penyelesaian analitikal dalam pengembangan garis lurus serta persamaan kuadratik. Persamaan kuadratik ialah satu persamaan di mana kuasa kedua tanpa kuasa lebih tinggi digunakan bagi yang tidak diketahui (x^2 + 2x - 8 = 0). Kejayaan itu akhirnya menjadikannya pengasas Algebra. Nama Algebra diperoleh daripada bukunya yang terkenal iaitu Al-Jabrwa-al-Muqabilah. Beliau turut menjelaskan dengan teliti kegunaan sifar - iaitu sistem angka yang dibangunkan oleh orang Arab.

Pada masa yang sama, beliau membangunkan sistem perpuluhan dan dengan itu, keseluruhan sistem nombor angka, algorithm atau algorizm memperoleh nama selepas dibangunkan oleh orang Arab. Dalam usahanya memperkenalkan sistem angka India (kini dikenali angka Arab), beliau telah membangunkan beberapa prosedur kira-kira termasuk operasi dan pecahan. Sistem angka itu kemudiannya diperkenalkan kali pertama oleh orang Arab kepada Barat yang mana hasil kerjanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropah.

Jasa beliau yang lain ialah membangunkan secara terperinci bidang trigonometri iaitu ilmu matematik mengenai sudut dan sempadan segitiga yang mengandungi fungsi sine. Beliau juga menyempurnakan teori geometri yang mewakili muka keratan kon dan membangunkan kalkulus yang mana membantunya menguasai konsep perbezaan. Beliau juga dilaporkan bekerjasama dalam pengukuran darjah di bawah perintah Khalifah Al-Ma’mun al-Rashid yang bertujuan mengukur isipadu dan lilitan bumi. Kebanyakan karya beliau yang agung berlaku antara tahun 813M sehingga 833M, ketika berada di bawah pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun al-Rashid yang sangat menggalakkan penimbaan ilmu dan juga penyebaran ilmu.

Pembangunan ilmu kaji bintang atau ilmu falak olehnya mempunyai makna yang cukup besar terhadap kemajuan dalam bidang sains astronomi - yang mana beliau turut menulis buku mengenainya. Sumbangan Khawarizmi dalam ilmu geografi turut cemerlang. Beliau tidak hanya menyemak pandangan Patolemy mengenai geografi tetapi juga membetulkannya termasuk dalam melakar peta dunia. Al Khawarizmi merupakan saintis pertama yang melakar peta dunia pada tahun 830 Masihi iaitu 10 tahun sebelum beliau meninggal dunia. Hasil kerjanya yang lain turut meliputi kerja-kerja asal berkaitan dengan jam, alat yang menunjukkan waktu dengan bayangan matahari serta kaji bintang.

Hasil penemuannya dibukukan dan beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada awal kurun ke-12. Sebenarnya, bukunya mengenai kira-kira, Kitab al-Jam'a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi telah hilang di benua Arab tetapi masih boleh diperoleh dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Bukunya mengenai Algebra iaitu Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada kurun ke-12 dan ia adalah terjemahan yang diperkenalkan dalam dunia sains baru kepada Barat.

Hasil kerjanya dalam ilmu falak turut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropah dan kemudian ke dalam bahasa Cina. Buku geografinya, Kitab Surat-al-Ard bersama-sama peta lakarannya juga telah diterjemahkan. Selain itu, beliau turut menulis kalendar Yahudi, Istikhraj Tarikh al-Yahud.

Beliau juga menulis Kitab al-Tarikh dan buku mengenai alat yang menunjukkan waktu dengan bayangan matahari dikenali Kitab al-Rukhmat. Malangnya kedua-dua buku itu telah hilang. Pengaruh Khawarizmi dalam perkembangan ilmu sains khususnya matematik, astronomi dan geografi kini menjadi lakaran sejarah. Buku-bukunya turut menjadi buku teks di beberapa universiti sehingga kurun ke-16.

Semoga kita dapat melahirkan cendiakawan Muslim yang ternama dan menumpukan masa, tenaga dan harta kepada ilmu yang dapat dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang. Semoga kita dapat melahirkan ilmuan yang jujur dan berbakat. Amin.

Ismail Abdullah, Hotel Residence, 11 Mei 2013.


Thursday, 25 August 2011

Blog Menyemarakan Kegiatan Maya PAPTI

Telah diwujudkan beberapa blog bagi menyemarakan kegiatan ahli PAPTI terlibat lebih dekat dengan PAPTI secara maya. Blog-blog yang telah diwujudkan hingga kini dapat dikategorikan sebagai:

Status terkini

Mengikut kajian saya, blog “Kisah-Kisah Di Indonesia” telah mendapat meningkatan hits yang tinggi sebanyak 483 mata dalam masa 17 hari, kerana pada 8 Ogos 2011 hitsnya ialah 236, tetapi bacaan pada 25 Ogos 2011, ianya meningkat kepada 1,719. Adalah diharapkan jumlah hits ini akan terus meningkat dengan lebih ramai ahli-ahli PAPTI aktif sebagai penulis dan juga sebagai pembaca.

Blog-blog yang lain masih dalam peringkat awal kajian. Mungkin dalam laporan yang akan datang saya akan berikan hasil kajian “hits” blog-blog yang lain.

Dr Ismail Abdullah, Teras Jernang, 25 Ogos 2011.