Wednesday, 8 February 2023

ALLAH BERI KESEMPATAN DAN KELAPANGAN SEBELUM MEMUSNAHKAN SESUATU KAUM

Tulisan ini berasaskan kepada dua ayat al-Qur’an iaitu ayat 94 dan 95 dari Surah Al-A’raaf:

Dan (Tuhan berfirman): Kami tidak mengutus dalam sesebuah negeri seorang Nabi (yang didustakan oleh penduduknya), melainkan Kami timpakan mereka dengan kesusahan (kesempitan hidup) dan penderitaan (penyakit), supaya mereka tunduk merendah diri (insaf dan tidak berlaku sombong takbur). (Al-A’raaf (7) : 94).

Setelah (mereka tidak juga insaf) Kami gantikan kesusahan itu dengan kesenangan hingga mereka kembang biak (serta senang-lenang) dan berkata (dengan angkuhnya): "Sesungguhnya nenek moyang kita juga pernah merasai kesusahan dan kesenangan (sebagaimana yang kita rasakan)". Lalu Kami timpakan mereka (dengan azab seksa) secara mengejut, dan mereka tidak menyedarinya. (Al-A’raaf (7) : 95).

Setelah Allah menjelaskan keadaan para nabi bersama kaum mereka dan adzab yang ditimpakan kepada mereka, dalam ayat ini, Allah menjelaskan kebinasaan dan kehancuran yang tidak terbatas hanya untuk masa para nabi pada waktu itu saja, tetapi Allah juga menimpakannya kepada yang lain.

Allah juga menjelaskan sunnah ilaahiyah (hukum-hukum Allah) berupa balasan yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan para nabi, iaitu dengan cara berangsur-angsur. Dimulai dengan menurunkan kesempitan terhadap mereka (kemiskinan yang hebat), penderitaan (sakit dan sebagainya), kemudian diberikan kelapangan dan kesenangan. Lalu terakhir, diturunkanlah adzab secara tiba-tiba tanpa mereka sadari kemunculannya. Ini menjadi peringatan keras terhadap kaum Quraisy dan orang-orang yang seperti mereka untuk membuat mereka takut dan mendorong mereka untuk beriman kepada kerasulan Muhammad saw..

Allah menyatakan sunnah-Nya yang selalu berlaku ketika menyiksa umat dan bangsa-bangsa yang sesat, baik di zaman para nabi maupun setelah mereka. Sunnah tersebut adalah adanya peringatan dan pemberian tempo terlebih dahulu. Kemudian, adanya keadaan-keadaan yang seolah memberi pesan untuk segera dilakukan perubahan terhadap keadaan yang ada dan pindah dari kekafiran dan kesesatan menuju iman dan hidayah.

Makna yang terkandung di dalam sunnah ini adalah "Ketika Kami mengutus seorang nabi pada suatu kaum lalu mereka mendustakan nabi tersebut. Kami tidak akan segera mengadzab mereka. Akan tetapi, secara berangsur-angsur Kami akan membiarkan mereka lalu Kami beri mereka peringatan untuk segera mengubah keadaan mereka. Kami akan mulai adzab itu dengan menurunkan sedikit kesulitan dan kesengsaraan dengan membuat keadaan perekomomian mereka memburuk dan menjadikan mereka fakir miskin. Kemudian, dengan menurunkan penyakit dan berbagai bencana terhadap mereka, atau sebaliknya: penyakit dulu baru kemudian kefakiran. Semua itu bertujuan agar mereka tunduk dan berdoa kepada Allah. Menundukkan hati dan memohon kepada-Nya untuk mengangkat semua adzab yang mereka rasakan.

Kemudian Kami ubah keadaan mereka dari kesulitan menjadi kesenangan, dari kemiskinan menjadi kaya, dan dari sakit menjadi sehat agar mereka mensyukuri semua itu. Namun sayangnya, mereka tidak mensyukurinya. Yang dimaksud dengan (السَّيِّئَة) adalah segala sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang merasakannya. Sementara itu, yang dimaksud dengan (الْحَسَنَةَ) adalah segala sesuatu yang disukai oleh nurani dan fikiran yang sehat.

Semakin banyak harta mereka dan semakin bertambah anak-anak mereka. Dalam sebuah kalimat, misalnya, "Sesuatu itu semakin banyak." Ini terjadi karena sebuah kesenangan biasanya menjadi sebab banyaknya keturunan.

Mereka berkata, (وَّقَالُواْ قَدۡ مَسَّ ءَابَآءَنَا ٱلضَّرَّآءُ وَٱلسَّرَّآءُ) Maksudnya, Kami telah menguji mereka dengan kesusahan dan kesenangan agar mereka tunduk dan kembali kepada Allah. Namun, semua itu tidak berguna. Bahkan, tanpa belajar dari apa yang telah terjadi, mereka berkata, "Kami telah merasakan kesusahan dan penderitaan. Lalu, kami juga merasakan kesenangan sebagaimana yang dialami oleh nenek moyang kami dulu." Mereka tidak memahami sunnah Allah dalam kebahagiaan dan kesengsaraan yang diberikan kepada manusia. Sikap ini berbeza sekali dengan sikap orang-orang beriman yang bersyukur kepada Allah dalam kesenangan dan bersabar dalam kesusahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

"Sungguh menakjubkan seorang Mukmin itu; tak satupun ketentuan yang ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali baik baginya. Jika ia mendapat kesusahan ia akan bersabar dan itu baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan ia akan bersyukur dan itu juga baik baginya." (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, seorang Mukmin selalu sadar terhadap semua yang diturunkan Allah kepadanya, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad:

"Seorang Mukmin akan selalu mendapat cobaan, hingga ia suci dari dosa-dosanya. Sementara, seorang munafik ibarat keledai; ia tidak tahu, kenapa diikat oleh tuannya dan tidak tahu pula kenapa dilepaskan." (HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad).

Mengubah keadaan dari buruk menjadi baik sangat penting untuk bisa bebas dari berbagai bencana. Firman Allah SWT,

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (ar-Ra'd:11).

Sementara itu, nasib orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi sepanjang zaman disebutkan oleh Allah, (فَأَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ) Maksudnya, akhir dari hidup mereka adalah Kami siksa mereka dengan berbagai adzab secara tiba-tiba, tanpa mereka sadari sama sekali bahwa adzab itu akan menimpa mereka agar mereka semakin menyesali diri dan berputus asa. Firman Allah,

"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (al-An'aam: 44).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi dari Aisyah,

"Kematian mendadak adalah rahmat bagi seorang Mukmin, tapi siksaan bagi seorang kafir." (HR Imam Ahmad dan Baihaqi).

Jadi, seharusnya seorang manusia, baik Mukmin maupun kafir, mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada orang lain. Seorang yang beriman kepada Allah tidak akan tertipu oleh masa. Berbagai penderitaan dan musibah akan menjadi penyuci, pembersih, dan pendidik bagi jiwanya. Sementara seorang kafir apabila ditimpa kesulitan ia berputus asa dan apabila mendapat kebaikan ia akan sombong, takabur serta berbuat zalim di muka bumi. Dengan demikian, akibat yang akan didapatkannya adalah kebinasaan.

Kesimpulan.

1. Jadi, seharusnya seorang manusia, baik Mukmin maupun kafir, mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada orang lain. Seorang yang beriman kepada Allah tidak akan tertipu oleh masa. Berbagai penderitaan dan musibah akan menjadi penyuci, pembersih, dan pendidik bagi jiwanya. Sementara seorang kafir apabila ditimpa kesulitan ia berputus asa dan apabila mendapat kebaikan ia akan sombong, takabur serta berbuat zalim di muka bumi. Dengan demikian, akibat yang akan didapatkannya adalah kebinasaan.

2. Orang yang berakal menggunakan pikirannya dan selalu mengamati peristiwa-peristiwa masa lalu dan perubahan zaman di masa yang akan datang. Dialah yang akan mendapatkan banyak pelajaran dari kehidupan ini.

Semoga kita cepat-cepat sedar Ketika kita berada dalam kealpaan terhadap Allah dan berusaha sekuat mungkin untuk Kembali kepada jalan Allah. Aamiin!!!

#cetusanminda

DrIsbah, Teras Jernang, 8-2-2023.

Rujukan: [1] Tafsir Al-Munir Jilid 5 - Juzuk 9 & 10 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 37 hingga 41.

Tuesday, 3 January 2023

LIMA PERKARA YANG ALLAH HARAMKAN KEPADA MANUSIA.

Pendahuluan

Sisi keterkaitan antara ayat ini dengan ayat sebelumnya jelas sekali. Ketika Allah mengingkari orang-orang musyrik dan lainnya atas pengharaman apa yang tidak haram seperti, perhiasan dan rezeki-rezeki yang bagus, di sini, Allah menyebutkan berbagai macam hal-hal yang diharamkan dan pokok-pokoknya, iaitu lima perkara. Semuanya termasuk yang dilakukan oleh manusia, bukan dari penciptaan atau bakat fitri manusia.

Al-Kalbi mengatakan bahwa ketika orang-orang Muslim memakai pakaian dan thawaf di Baitullah, mereka dicela oleh orang-orang musyrik. Oleh sebab itu, turunlah ayat ini.

Dalam ayat 33, Surah Al-A’raaf, Allah terangkan lima (5) perkara yang diharamkan kepada manusia.

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, sama ada yang nyata atau yang tersembunyi; dan perbuatan dosa; dan perbuatan menceroboh dengan tidak ada alasan yang benar; dan (diharamkan-Nya) kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah sedang Allah tidak menurunkan sebarang bukti (yang membenarkannya); dan (diharamkan-Nya) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. (Al-A’raaf (7) : 33).

Tafsir dan Penjelasan.

Katakan wahai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang mengharamkan rezeki dan pakaian-pakaian yang dihalalkan Allah. Allah SWT hanya mengharaman lima hal, iaitu pokok-pokok yang diharamkan Allah. Lima hal itu adalah sebagai berikut.

1. Perbuatan-perbuatan keji (baik terang-terangan maupun tersembunyi) itu adalah perbuatan-perbuatan yang sangat jelek atau itu adalah ungkapan dari dosa-dosa besar sebab kejelekannya berlebih, seperti zina, mencuri, dan melawan kelompok Islam.

2. Dosa. Ertinya, yang menyebabkan dosa. Iaitu maksiat-maksiat yang kecil. Jadi, makna ayat adalah Allah mengharamkan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil, seperti melihat dengan syahwat kepada selain istri. Ada yang mengatakan makna (ٱلۡإِثۡمَ) adalah maksiat atau dosa secara mutlak. Ini adalah athaf dari yang umum kepada yang khusus.

3. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar; yakni kezaliman, melampaui batas kerusakan, dan hak-hak dengan melanggar hak-hak manusia yang lain, baik individu maupun kelompok. Pembatasan pelanggaran dengan kata tanpa alasan yang benar adalah karena pelampauan batas jika untuk kemaslahatan umum atau saling ridha (menerima), tidak apa-apa.

4. Menyekutukan Allah. Ini adalah perbuatan keji yang paling jelek, iaitu menjadikan bersama Allah, Tuhan lain, seperti berhala, patung atau manusia yang tidak ada dasar dari akal, dan bukti dari wahyu. Argumen dinamakan sulthan karena mengunggulkan ucapan musuh daripada yang lain. Ini mempunyai pengaruh terhadap akal pendengar dan pemikirannya. Seperti firman Allah SWT,

"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung." (al-Mu'minuun: 117).

Dalam ayat ini, ada petunjuk bahwa al-burhan (dalil yang kuat) adalah dasar pengambilan dalil mengenai kebenaran aqidah dan bahwa keimanan tidak bisa diterima tanpa wahyu dari Allah yang diperkuat oleh dalil dan burhan.

5. Mengada-adakan perkara atas nama Allah tanpa menggunakan ilmu dan argumentasi, seperti mereka-reka dan berdusta terhadap Allah dengan menuduh bahwa Dia mempunyai anak atau sekutu dari berhala-berhala. Allah berfirman,

"Maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta." (al-Hajj: 30).

Penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal dengan tanpa sandaran dan argumentasi. Ini adalah ucapan dengan pendapat murni tanpa dalil dari syara'. Ia menyebabkan terdistorsinya agama, bid'ah dalam agama yang benar dan mengikuti hawa nafsu dan syaitan, sebagaimana dilakukan oleh Ahli Kitab. Allah SWT berfirman,

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, 'Ini halal dan ini haram."' (an-Nahl: 116).

Ini adalah metode orang-orang yang mengaku tajdidi, melampaui syari'at atas nama ijtihad, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda,

"Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (kebiasaan) orang-orang sebelum kalian, satu jengkal demi jengkal, satu hasta demi hasta, sampai ketika mereka masuk ke lubang biawah kalian akan mengikuti mereka". Kami berkata, 'Wahai Rasulullah, mereka orang-orang Yahudi dan Nasrani?' Nabi bersabda, 'Siapa lagi?"' (HR Bukhari dan Muslim).

Jalan ijtihad dikenal dalam syari'at, iaitu memerhatikan dalam Al-Qur'an, sunnah, dan ijmak dengan benar berdasarkan dasar-dasar syar'i, kemudian meng-qiyas-kannya atau mengambil pendapat yang mencakup isfihsan, istishlah dan sebagainya. Ini adalah pendapat yang selaras dengan ruh syari'at, pokok-pokoknya, dan prinsip-prinsipnya yang umum.

Tentang ayat ini, dimunculkan pertanyaan-pertanyaan. Intinya bahwa kata (إِنَّمَا) memberi pengertian pembatasan. Jadi, firman Allah SWT (إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ) padahal barang-barang yang diharamkan tidak terbatas pada ini saja, jawabannya ialah kejahatan-kejahatan terbatas pada lima macam. Pertama, kejahatan terhadap nasab. Ini hanya terjadi dengan zina. Itulah yang dimaksud dengan firman-Nya (إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ). Kedua, kejahatan terhadap akal, iaitu minum khamr. Ini diisyaratkan dengan firman-Nya, (ٱلۡإِثۡمَ). Ketiga, kejahatan terhadap harga diri. Keempat, kejahatan terhadap jiwa dan harta. Keduanya diisyaratkan dengan firman-Nya, (وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ). Kelima, kejahatan terhadap agama. Ini dari dua segi. Pertama, mencederai keesaan Allah, diisyaratkan dengan firman-Nya (وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ). Kedua, berkata, mengenai agama Allah tanpa pengetahuan. Ini diisyaratkan dengan firman-Nya, (وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ). Ketika perkara-perkara kejahatan adalah perkara-perkara ini, sedangkan yang lain menjadi seperti cabang dan yang mengikuti, penyebutan hal-hal yang diharamkan selaras dengan penyebutan yang perkara (keseluruhan). Jadi, dimasukkan kata (إِنَّمَا) yang mempunyai pengertian pembatasan (Tafsir ar-Razi: XIV/67).

Fiqih Kehidupan atau Hukum-Hukum.

Ayat ini, sebagaimana telah jelas dari penafsirannya, menunjukkan pengharaman dasar-dasar perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Ini mencakup penyimpangan aqidah (menyekutukan Allah), menghantam syari'ah (berkata, tentang agama Allah tanpa ilmu dan pengetahuan), dan kejahatan terhadap akal (pengharaman dosa). Ini terjadi pada semua maksiat dan juga khamr (menurut bahasa). Dengan dalil ucapan syair;

“Aku minum dosa (khamr) sehingga hilanglah akalku. Demikianlah, dosa menghilangkan akal."

(ٱلۡإِثۡمَ) sebagaimana yang dikatakan Hasan al-Bashri adalah khamr. Al-Jauhari dalam ash-Shihah berkata, "Kadang-kadang khamr dinamakan al-ltsmu. Selanjutnya, kejahatan tehadap nasab (zina), kejahatan terhadap jiwa dan harta (membunuh, mencuri), harga diri (menuduh zina). lni adalah kezaliman sosial dan individu yang disinggung (disinyalir) oleh firman-Nya, (وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ).

Dari situ, tampak bahwa dasar-dasar yang diharamkan mencakup aqidah, syari'ah, akhlak, etika, baik yang berkaitan dengan dosa-dosa yang terbatas pada diri, iaitu al-Itsmu, maupun yang risikonya sampai kepada orang lain, iaitu melanggar hak manusia.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil daripada kuliah ini ialah:

1. Isu-isu yang diharamkan Allah ada lima (5) iaitu perbuatan-perbuatan keji, dosa (menyebabkan dosa), melanggar hak manusia, Menyekutukan Allah, Mengada-adakan sesuatu yang tidak benar atas nama Allah.

2. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal merupakan tindakan putar belit fakta yang bukan daripada Allah. Ianya adalah bid’ah dan tertolak daripada Islam.

3. Dalam berijtihad mestilah berdasarkan al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama’ yang muktabar (terbilang) bukan mengikut hawa nafsu.

4. Menggunakan kaedah qiyas dalam mendapatkan hukum juga mestilah berdasarkan al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama’ yang muktabar.

5. Kejahatan-kejahatan terdiri dari lima perkara; (1) kejahatan terhadap dengan berzina, (2) minum khamr (merosakan akal), (3) kejahatan terhadap harga diri, (4) kejahatan terhadap jiwa dan harta, (5) kejahatan terhadap agama.

6. Perkara-perkara cabang daripada lima kejahatan di atas perlu juga ditegah dan dihapuskan terutama tindakan mendekati zina, minum khamr, kerosakan jiwa dan harta serta agama.

Semoga kita mencari fakta yang benar dan tidak menyeleweng fakta yang Allah turunkan melalui al-Quran. Aamiin!!!...

Dr. Ismail Abdullah, Teras Jernang, 3-1-2023

Rujukan:

[1] Tafsir Al-Munir Jilid 4 - Juzuk 7 & 8 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 443 hingga 446.

Thursday, 17 November 2022

Pertembungan idea dalam Melayu-Islam

Apabila dianalisis secara mendalam perkembangan politik Melayu-Islam sehari dua ini, jelas sekali sebenarnya merupakan hasil pertarungan besar idea (contending of major ideas) antara 3 kelompok:

1. Kelompok nasionalis melayu tulen yang diwakili oleh UMNO, BERSATU dan PEJUANG. Bagi mereka ini, Islam itu adalah juzu’ kecil dalam perjuangannya.

2. Kelompok nasionalis melayu tulen yang cuba diwarnai (sibghah) dengan Islam (Islamic nationalist) yang diwakili oleh PAS. Golongan ini dipanggil oleh Dr. Harun Din dalam perbualannya dengan Ustaz Azizan Razak 1976 di rumahnya di PJ (sebelum pindah di Bangi – Mohd Nor Nawawi menemani Ust Azizan Razak); iaitu berorientasi Islamik tetapi kental kebangsaan Melayu. Beliau menganggap dirinya dalam kelompok ini. Ust Fadhil Mohd Noor tidak menerima (subscribes) kepada kaedah ini tetapi Ust Hadi Awang samalah pemikirannya Dr. Harun Din.

3. Kelompok Islamis yg memahami Islam itu alamiah dan tidak tertarik dgn Nationalis Melayu tulen. Kelompok ini diwakili oleh Dato Seri Anwar Ibrahim (DSAI) yang melihat masyarakat yang dibina oleh Rasulullah SAW dalam konteks Perlembagaan Madinah dan Negara Islam Sepanyol dengan persetujuan (convenvicia) yang masyur itu di mana orang Islam, Kristian dan Yahudi hidup aman damai lebih kurang 800 tahun. Bagi DSAI, inilah model Islam terbaik bagi masyarakat majmuk, dan inilah yg cuba dibawanya hari ini dengan tidak mahu menafikan hak-hak bukan Islam.

Ulama pendakwah terkenal al-Marhum Dr. Syeikh Muhammad al-Ghazali ketika dijemput ke Malaysia oleh DSAI pada tahun 1990-an mengatakan “unik sekali Malaysia ini. Allah menguji anda apakah anda boleh mewujudkan Sepanyol kedua. Segala resipi ada di sini”.

Jadi, saudara perlu ingat apa sedang kita saksikan ini BUKAN percaturan politik kecil, tetapi merupakan pertarungan idea yg besar. Sudah tentu akan ada orang yang menyokong kelompok 1, 2 dan 3 mengikut kefahaman masing-masing.

Cuma persoalannya dari segi ajaran Islam sebenar, ajaran manakah yg betul?

Dr. Mohd Nor Nawawi berpandangan yang ketiga (3) adalah lebih tepat kerana ISLAM TIDAK RASIS atau PERKAUMAN.

Sejarah Islam ialah sejarah kepelbagaian etnik dan agama. Yang Nabi tidak benarkan agama lain wujud kecuali Islam sahaja hanyalah di Jazaratul Arab (Semenanjung Arab). Selain daripada itu tiada masalah.

Sejarah Islam adalah penuh dengan toleransi dan tasamuh terhadap semua kelompok muslim dan bukan Muslim. Hukum Islam (kecuali yang jelas (qat’ie)) berubah mengikut situasi.

Pada asalnya, ulama berpandangan, perlu ada 1 khalifah sahaja. Tetapi, apabila wujud lebih khalifah (Abassiah di Timur Tengah dan Umayyah di Spanyol) ulama mengubah pula fatwanya dan selepas itu apabila wujud sultan-sultan dan kerajaan-kerajaan kecil, ulama mengubah lagi fatwa mereka.

Dalam konteks Sepanyol yang mana terdapat masyarakat Muslim dan Kristian, para ulama tersohor (muktabar) di Sepanyol menulis dengan mendalam sekali tentang hukum kerjasama Muslim-Kristian.

Jadi Islam itu relevan sepanjang zaman kerana ijtihad ulama adalah hebat.

Organisasi politik yang tidak mengikuti perkembangan zaman akan terus ditinggalkan zaman.

Prof Dr. Mohd Nor Nawawi berpendapat DSAI memahami Islam itu dengan tepat, berbanding orang tertentu walaupun dipanggil ustaz!

Kredit: Prof Dr Mohd Nor Nawawi, Universiti Islam Selangor (UNISEL), Malaysia.

#jatidirimelayuislam

DrIsbah, Teras Jernang, 17-11-2022.

ORANG ZALIM SALING MEMBANTU

Dalam hidup ini kita dapati ada pihak yang adil dan pihak yang melakukan kezaliman. Bentuk-bentuk keadilan dan kezaliman itu bermacam-macam.

Kita juga dapati adanya persahabatan antara jin dan manusia kerana manusia akan menggunakan jin bagi memenuhi keperluan mereka, Allah juga menjadikan sebagian orang-orang zalim sebagai teman bagi sebagian yang lain. Kami jadikan sebagian mereka sebagai penolong sebagian yang sesuai dengan takdir dan sunnah alam, sebagaimana sebagian orang Mukmin menjadi kawan sebagian yang lain. Firman Allah SWT,

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (at-Taubah:71).

"Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain." (al-Anfaal:73).

Qatadah mengatakan dalam penafsiran ayat ini, “Allah hanya menjadikan persahabatan di antara manusia sesuai dengan amal mereka. Orang Mukmin adalah pelindung bagi orang Mukmin yang lain di mana pun dan bila pun dia berada. Orang kafir adalah pelindung bagi orang kafir yang lain, di mana pun dan bila pun dia berada. Keimanan bukanlah angan-angan atau penampilan saja." Ath-Thabari sependapat dengan tafsiran ini. Dengan demikian, makna ayat ini adalah sebagaimana Allah jadikan sebagian orang musyrik dari kalangan jin dan manusia sebagai pelindung bagi sebagian yang lain dan mereka saling menolong antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga, Allah jadikan sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain dalam segala urusan yang disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan.

Imam Suyuthi dalam al-Iklil mengatakan bahwa ayat ini sama erti dengan hadits,

"Sebagaimana keadaan kalian, seperti itulah pemimpin yang mengurusi kalian.”

Fudhail bin Iyadh berkata, "Jika kamu melihat orang zalim yang melakukan pembalasan kepada orang zalim yang lain, diamlah dan lihatlah dengan penuh kehairanan." Abu Syekh bin Hayyan meriwayatkan dari Manshur bin Abil Aswad, dia berkata, “Aku bertanya kepada al-Amasy tentang firman Allah SWT, ‘Apa yang kalian dengan dari perkataan mereka?' Manshur berkata, “Aku mendengar mereka berkata,'Jika manusia telah rusak, mereka akan dipimpin oleh orang-orang jahat dari mereka.' Sesungguhnya kekuasaan dan pemerintahan adalah milik orang-orang yang paling buruk dari mereka."' Sebagaimana firman Allah SWT,

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu)." (al-lsraa':16).

Bentuk persahabatan antara orang-orang zalim boleh dalam bentuk saling menyayangi dan saling menolong di antara mereka, boleh juga sebagian mereka menguasai dan memimpin sebagian yang lain. Tidak ada seorang zalim pun, kecuali dia akan dikuasai oleh orang yang lebih zalim darinya. Kezaliman bersifat umum dan mencakup orang-orang yang menzalimi diri sendiri dan orang lain, baik itu para pemimpin maupun lainnya. Setiap kelompok menguasai kelompok yang memiliki kemiripan dalam perangai dan amal perbuatan. Ia akan membelanya dari dalam menghadapi yang lainnya. Ibnu Abbas berkata, "Jika Allah meridhai sebuah kaum, Dia akan menguasakan urusan mereka kepada yang terbaik dari mereka. Jika Allah murka kepada kaum, Dia akan menguasakan urusan mereka kepada yang terburuk dari mereka." Ini adalah ancaman yang bersifat umum kepada setiap orang yang zalim, baik dalam pemerintahan, kekuasaan, maupun yang lainnya.

Allah melanjutkan celaannya terhadap orang-orang zalim dan ancamannya kepada orang-orang kafir dari golongan jin dan manusia. Ia menjelaskan keadaan mereka pada hari Kiamat, iaitu dengan bertanya kepada mereka, padahal Dia Maha Mengetahui. "Bukankah para rasul telah menyampaikan risalah mereka?" Ini adalah pertanyaan yang bernada penegasan, ancaman, dan hinaan. Allah SWT berfirman, “Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum sampai kepada kalian para rasul dari golongan kalian?” Para rasul berasal dari golongan manusia saja, tidak ada yang berasal dari jin, sebagaimana ketetapan mayoritas ulama salaf dan khalaf.

Mutiara dan marjan menurut kebiasaan orang-orang dahulu hanya keluar dari air laut yang asin, bukan tawar. Kemudian, terbukti bahwa sebagian sungai yang tawar terdapat mutiara juga yang boleh diambil.

Boleh juga yang dimaksud adalah para rasul dari jenis manusia yang sudah dikenal dan para rasul dari bangsa jin yang mendengarkan bacaan Nabi Muhammad saw. kemudian pergi untuk memberi peringatan kepada kaum mereka. Allah SWT berfirman,

"Mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." (al-Ahqaaf:29).

"Katakanlah (Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),' lalu mereka berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an)."' (al-Jinn:1).

Tugas dari para rasul ini adalah membacakan ayat-ayat yang berkenaan dengan keimanan, hukum, dan akhlak. Mereka memberi peringatan tentang datangnya hari penghimpunan, hisab, dan pembalasan kepada orang yang kufur dan mengingkarinya. Mereka menjawab pertanyaan itu pada hari Kiamat kami mengakui bahwa para rasul telah menyampaikan risalah kepada kami, memberi peringatan kepada kami tentang hari perjumpaan dengan-Mu, dan ini pasti terjadi. Ayat ini sama seperti firman Allah SWT,

"Mereka menjawab, 'Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar."' (al-Mulk:9).

Mereka tertipu oleh kehidupan dunia dengan hiasan dan kenikmatannya, yakni hawa nafsu, harta, anak-anak, cinta pada kekuasaan dan derajat yang tinggi sehingga mereka mengabaikan perintahAllah dalam kehidupan dunia mereka. Mereka binasa karena mendustakan para rasul dan mengingkari mukjizat karena sombong dan angkuh. Mereka bersaksi untuk diri mereka sendiri pada hari Kiamat bahwa mereka di dunia mengingkari apa yang dibawa para rasul. Pengutusan para rasul, adanya peringatan kepada manusia, dan penurunan kitab-kitab sesuai dengan sunnatullah bahwa seseorang tidak akan dihukum atas dosa yang dilakukannya jika risalah dakwah belum sampai kepadanya. Sebuah umat juga tidak akan dibinasakan dengan siksa yang memusnahkan kecuali setelah diutusnya para rasul kepada mereka, sebagaimana firman Allah SWT,

"Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan." (Faathir:24).

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'sembahlah Allah, dan jauhilah Taghut."' (an-Nahl:36).

"Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul." (al-Israa':15).

Kata (بِظُلۡمٖ) sebagaimana disebutkan oleh ath-Thabari mempunyai dua makna. Pertama, syirik dan sejenisnya, yakni kezaliman adalah perbuatan orang-orang kafir. Kedua, pembinasaan bukanlah suatu kezaliman walaupun tanpa adanya peringatan akan datangnya para rasul, ayat-ayat, dan peringatan sebab semua itu adalah kekuasaan Allah SWT. Makna yang pertama lebih kuat sebagaimana pendapat ath-Thabari, ar-Razi, dan lainnya.

Kesimpulannya ialah sesungguhnya Allah tidak menzalimi seorang pun dari makhluk-Nya, tetapi manusia yang zalim pada dirinya sendiri. Semua yang menimpa kepada umat Islam disebabkan perbuatan buruk mereka dan karena mereka meninggalkan agama. Kesalahan ada pada mereka bukan pada sistem syari'at. Setiap orang yang beramal, baik ketaatan maupun kemaksiatan akan mendapatkan kedudukan dan posisi sesuai amalnya. Allah akan menyampaikan padanya dan memberinya pahala amal. Jika amalnya baik, balasannya baik. Jika buruk balasannya buruk. Allah mengawasi semua amal perbuatan. Tidak ada satu perbuatan mereka, kecuali Allah mengetahuinya. Dialah yang menghitung dan menetapkannya untuk mereka di sisi-Nya untuk kemudian akan dibalas ketika mereka bertemu dengan-Nya dan kembali kepada-Nya. Ini adalah dalil bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan tergantung pada amal perbuatan manusia dan keinginannya, usaha, kehendak, dan ikhtiarnya.

Semoga Allah memberikan kita kesedaran dalam memahami situasi masyarakat kini dan memilih pemimpin yang baik sesuai dengan negara, bangsa dan agama. Aamiin!!!...

Rujukan: Tafsir Al-Munir Jilid 4 - Juzuk 7 & 8 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 328 hingga 332.

DrIsbah, Teras Jernang, 17-11-2022.

Saturday, 17 September 2022

DALAM KESULITAN MENGADULAH KEPADA ALLAH.

Allah SWT memaklumkan kepada kita bahwa Dia adalah Zat Yang Maha melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Ia Maha Mengatur ciptaan-Nya sesuai dengan yang diinginkan-Nya, dan bahwa tidak ada penghalang apa pun yang boleh menghukumi-Nya. Tiada seorang pun yang mampu menghindarkan hukum-Nya dari ciptaan-Nya, bahkan Allah SWT adalah Zat Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dia akan mengabulkan permintaan siapa saja yang Ia kehendaki.

Katakanlah kepada orang-orang musyrik wahai Rasul, "Bagaimana jika adzab Allah SWT datang menimpa kalian, sebagaimana adzab yang telah menimpa umat-umat terdahulu, seperti gempa, angin taupan, halilintar yang berkilat, badai, dan banjir? Bagaimana jika hari Kiamat didatangkan kepada kalian dengan segala macam kepanikan, kehinaan, dan hiruk pikuk malapetaka yang menakutkan? Adakah kalian akan menyeru kepada selain Allah SWT untuk menghindar dari apa yang menimpa diri kalian? Ataukah kalian akan menyeru kepada berhala yang kalian jadikan sebagai tempat berlindung? Ataukah kalian memercayai berhala-berhala itu sebagai Tuhan dan sebagai sekutu Allah SWT?

Kemudian, Allah SWT memberikan mereka jawaban dengan nada mencemuh dari pertanyaan-pertanyaan ini melalui firman-Nya (بَلۡ) untuk menggugurkan semua yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun jawabannya adalah bahwa pada saat kalian tertimpa kesengsaraan, malapetaka, dan cobaan, kalian hanya meminta kepada kepada Allah semata. Kalian meminta agar Ia menghilangkan segala penderitaan yang ditimpakan kepada kalian dan Allah SWT menghilangkan penderitaan tersebut sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya. Pada saat itu, kalian melupakan apa yang selama ini membuat kalian musyrik. Kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian dan yang kalian ingat hanyalah Allah SWT semata, sebagaimana firman Allah SWT,

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur)." (al-Israa': 67).

"Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (al-'Ankabuut:65).

"Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, Ialu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih." (Luqmaan:32).

Dalam ayat-ayat 40 hingga 45, Surah Al-An’aam (6), Allah SWT menyatakan mengenai kekuasaan, ke-Esa-an, dan keterangkuman hidup manusia berada dalam genggaman-Nya.

Katakanlah (wahai Muhammad): "Khabarkanlah kepadaku, jika datang kepada kamu azab Allah, atau datang kepada kamu hari kiamat, adakah kamu akan menyeru yang lain dari Allah (untuk menolong kamu), jika betul kamu orang-orang yang benar?" (Al-An’aam (6) : 40).

Bahkan Dia lah (Allah) yang kamu seru lalu Ia hapuskan bahaya yang kamu pohonkan kepadaNya jika Ia kehendaki; dan kamu lupakan apa yang kamu sekutukan (dengan Allah dalam masa kamu ditimpa bahaya itu). (Al-An’aam (6) : 41).

Dan demi sesungguhnya Kami telah utuskan Rasul-rasul kepada umat-umat yang dahulu daripadamu (lalu mereka mendustakannya), maka Kami seksakan mereka dengan kebuluran dan penyakit, supaya mereka berdoa (kepada Kami) dangan merendah diri (serta insaf dan bertaubat). (Al-An’aam (6) : 42).

Maka alangkah eloknya kalau mereka berdoa kepada Kami dengan merendah diri (serta insaf dan bertaubat) ketika mereka ditimpa azab Kami? Tetapi yang sebenarnya hati mereka keras (tidak mahu menerima kebenaran), dan Syaitan pula memperelokkan pada (pandangan) mereka apa yang mereka telah lakukan. (Al-An’aam (6) : 43).

Kemudian apabila mereka melupakan apa yang telah diperingatkan mereka dengannya, Kami bukakan kepada mereka pintu-pintu segala kemewahan dan kesenangan, sehingga apabila mereka bergembira dan bersukaria dengan segala nikmat yang diberikan kepada mereka, Kami timpakan mereka secara mengejut (dengan bala bencana yang membinasakan), maka mereka pun berputus asa (dari mendapat sebarang pertolongan). (Al-An'aam (6) : 44).

Lalu kaum yang zalim itu dibinasakan sehingga terputus keturunannya. Dan (dengan itu bersyukurlah kerana musnahnya kezaliman, dengan menyebut): "Segala puji tertentu bagi Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian Alam". (Al-An’aam (6) : 45).

Ayat-ayat sebelum ayat 40 hingga 45, telah menjelaskan betapa bodohnya orang kafir dan betapa ilmu Allah SWT meliputi seluruh alam. Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan situasi lain dari orang-orang kafir tatkala mereka diuji dengan bencana dan musibah, mereka mengadu dan kembalikan kepada Allah SWT, bahkan tidak berani mendurhakai-Nya. Hal ini dipengaruhi oleh keperluan manusia pada tauhid tersebut.

Begitulah, Allah SWT telah meletakkan di dalam fitrah manusia ketauhidan dan kepatuhan terhadap Pencipta yang hakiki dan Yang Maha Berkuasa yang kekuasaan-Nya melebihi segala sesuatu. Tiada satu pun yang mampu mengalahkan-Nya baik di langit maupun di bumi. Adapun kemusyrikan yang sifatnya adalah sementara dan berasal dari warisan kaum-kaum primitif, hingga ketika tertimpa cobaan, mereka akan memohon dengan sangat kepada Allah SWT,

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (lslam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (lnilah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (ar-Ruum:30).

Allah SWT memberikan contoh dengan perumpamaan umat-umat terdahulu dan mengukuhkannya sebagai contoh agar dapat dijadikan pengajaran. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesengsaraan yang menimpa hamba-hamba-Nya itu telah menjadi sunatullah agar mereka berbalik dari kesesatannya dan menjadi sedar kembali. Kemudian, Allah SWT berfirman (وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ) yang maksudnya adalah Allah telah mengutus para rasul kepada umat-umat sebelummu, lalu para rasul itu mengajak mereka untuk mengesakan Allah SWT dan menyembah-Nya, namun mereka tidak mengindahkan ajakannya maka Allah pun menguji mereka dengan musibah dan malapetaka, yakni dengan kefakiran, kesempitan hidup, penyakit, dan kepedihan agar mereka berdoa dan mengharap dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT dengan penuh kekhusyuan. Sebabnya, musibah-musibah tersebut akan membersihkan jiwa, memperkuat mental, dan meluruskan akhlak. Ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya ketika orang-orang musyrik menempuh jalan yang berbeda dengan para nabi, seperti jalan yang di tempuh oleh orang sebelum mereka. Mereka mencabarnya agar diturunkan bencana, sebagaimana bencana yang telah diturunkan kepada umat-umat sebelumnya.

Kemudian, Allah SWT menegaskan anjuran-Nya supaya memohon dengan sungguh-sungguh dengan mengatakan, “Andai saja kalian tunduk kepada-Ku dan bersikap khusyu’ dan bertaubat tatkala datang cobaan dan tanda-tanda dari siksaan." Akan tetapi mereka tidak mau melakukannya dan hati mereka menjadi keras, yakni hati mereka tidak lembut dan halus dan mengeras bagaikan batu bahkan lebih keras lagi. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dan syaitan akan menghiasi perbuatan mereka dengan tindakan syirik, dosa, durhaka, dan maksiat, bahkan syaitan akan membisikkan kepada mereka untuk tetap mengikuti apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Kemudian, Allah SWT menurunkan siksaan kepada mereka disertai dengan penjelasan penyebab dan pertimbangannya, Allah SWT berfirman, (فَلَمَّا نَسُواْ) maksudnya adalah tatkala mereka berpaling dari para rasulnya yang membawa ajaran baik berupa berita gembira maupun peringatan, mereka melupakannya dan membelakanginya. Mereka terus berada dalam kekafiran dan kedurhakaannya, Ialu Allah SWT membukakan pintu rezeki dengan berbagai macam kemakmuran hidup, kesihatan, keamanan, dan lain sebagainya sesuai dengan yang diinginkan mereka. Ini adalah istidraj dan pembiaran dari Allah SWT kepada mereka sehingga tatkala mereka bersuka ria dengan apa yang telah mereka terima berupa rezeki, anak-anak dan harta benda. Allah SWT menjadikan mereka lalai dan menimpakan siksa yang tak terduga kepada mereka. Mereka pun menjadi putus asa dari keselamatan dan semua kebajikan.

Binasalah kaum yang menzalimi dirinya sendiri, iaitu mereka yang mendustakan rasul dan tetap berkubang dalam kemusyrikan yang membinasakan sehingga tak ada seorang pun dari mereka yang akan selamat. Pujian seutuhnya hanyalah milik Allah SWT, Tuhan seluruh alam, atas anugerah kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada rasul-rasul-Nya dan kepada orang-orang yang taat. Ia yang menjatuhkan siksaan bagi orang-orang kafir dan rusak. Ini menunjukkan bahwa pemusnahan orang-orang yang merusak adalah bentuk nikmat dari Allah SWT dan bahwa dalam setiap kesengsaraan dan kepedihan terdapat pelajaran dan nasihat. Sesungguhnya, tenggelam dalam kemewahan hidup merupakan istidraj dan permulaan adzab. Sesungguhnya, berdzikir kepada Allah SWT adalah sebuah keharusan dalam setiap perkara.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Nabi saw. bersabda,

"Jika kalian melihat seorang hamba yang diberikan oleh Allah SWT sesuatu yang ia inginkan dari dunia atas kemaksiatan yang ia lakukan, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj." (HR Imam Ahmad).

Kemudian, Rasulullah saw membacakan ayat, (فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ) sampai akhir ayat.

Dalam sebuah riwayat ath-Thabrani dan al-Baihaqi tentang bab iman disebutkan,

"Jika kamu melihat Allah SWT memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia sukai dari dunia, padahal dia selalu melakukan maksiat, maka hal itu merupakan istidraj." (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

Adapun orang Mukmin tidak akan terpedaya (lengah) dengan kenikmatan dan akan bersabar saat mendapat cobaan. Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits marfu dari Shuhaib,

"Sungguh mengagumkan perkara orang Mukmin, semua perkaranya itu baik, dan hal tersebut hanya ada pada diri orang Mukmin. Ketika ia mendapat kesenangan ia akan bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya, dan ketika ia tertimpa kesengsaraan ia bersabar dan itu adalah kebaikan baginya!' (HR Muslim).

Ayat (Qul araoitukum) merupakan hujjah tak terbantahkan bagi orang-orang musyrik. Ayat ini sebuah perumpamaan bagus yang digunakan dalam berargumentasi dengan mereka. Di saat tertimpa musibah, mereka mengadu kepada Allah dan pada hari Kiamat mereka akan kembali kepada-Nya. Lantas, mengapa kemusyrikan ini terus terjadi pada saat kondisi mereka sejahtera? Padahal, pada saat mereka sedang kesulitan, mereka meninggalkan berhalanya dan menyeru kepada Allah SWT agar menghilangkan adzab dari mereka? Semua ini menunjukkan adanya pengakuan dari mereka terhadap Allah SWT.

Di antara wujud sifat belas kasih Allah SWT kepada hamba-Nya adalah adanya peringatan dari Allah mengenai kondisi umat-umat terdahulu yang bisa diambil pelajaran dan nasihat. Sesungguhnya, Allah SWT mendidik hamba-hamba-Nya dengan kesengsaraan (harta benda) dan kesulitan (yang menimpa badan) serta dengan apa saja yang dikehendaki oleh-Nya,

"Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya." (al-Anbiyaa':23).

Hal ini supaya mereka kembali kepada Allah SWT serta berpaling dari kekafiran dan kemaksiatan sehingga mereka sadar.

Akan tetapi, pada umumnya, kedurhakaan selalu mengiringi kekafiran. Oleh karena itu, Allah SWT mencela orang kafir yang yang tidak mau berdoa dan menginformasikan bahwa mereka tidak tunduk saat diturunkannya adzab. Boleh jadi, mereka berdoa, namun tanpa disertai keikhlasan atau mereka berdoa pada saat terkena adzab dan pada saat itu hal ini tidak ada gunanya bagi mereka.

Dari penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa berdoa diperintahkan saat kondisi lapang atau sempit. Allah SWT berfirman,

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina."' (al-Mu'min: 60).

Ini adalah sebuah ancaman yang teramat nyata.

Adapun adanya kedurhakaan orang kafir ditunjukkan dalam firman Allah SWT , (وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ) yakni keras kepala dan keras hatinya. Hal ini merupakan ungkapan bagi orang kafir dan orang yang selalu berbuat maksiat. Mereka dalam hal ini terpengaruh oleh syaitan, (وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ) syaitan membujuk dan menggiring mereka pada kemaksiatan.

Kenikmatan yang diberikan kepada seorang hamba bukan bererti hal itu menunjukkan keridhaan Allah SWT. Apabila kenikmatan itu dibarengi dengan kemaksiatan, hal tersebut merupakan istidraj dari Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya,

"Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh." (al-Qalam:45).

Sebagian ulama ada yang berkata, "semoga Allah memberikan rahmat bagi seorang hamba yang mentadabburi ayat ini, (حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ)." Muhammad bin an-Nadhr al-Haritsi mengatakan bahwa Allah SWT menangguhkan kaum-kaum ini sampai dua puluh tahun. Hasan al-Bashri mengatakan "Demi Allah, tidak ada seorang manusia pun yang diberi kelapangan duniawi oleh Allah SWT lalu ia tidak memiliki kekhawatiran bahwa hal itu adalah ujian dari Allah, kecuali amalnya akan menurun dan akalnya menjadi lemah. Tidaklah Allah menahan pemberian kepada hamba, lalu ia tidak memiliki anggapan bahwa di dalamnya ada sebuah kebaikan, kecuali amalnya akan menurun dan akalnya menjadi lemah.”

Sesungguhnya, kehancuran dan kebinasaan suatu kaum dalam pengetahuan kita merupakan hal yang menyedihkan, namun dalam takdir Allah SWT hal itu merupakan suatu pelajaran dan nasihat yang baik agar kerusakan tidak semakin merajalela.

Ayat (فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ) mengandung kewajiban untuk meninggalkan kezaliman karena kezaliman selalu mendatangkan penderitaan. Ayat ini juga mengandung kewajiban untuk memuji kepada Allah SWT yang telah menghukum kezaliman agar kerusakan tidak terus berlanjut dan agar unsur kebaikan bisa tegak berdiri.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil daripada tajuk ini ialah:

1. Allah SWT mengatakan bahwa Dia adalah Zat Yang Mahakuasa yang dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Ia Maha Mengatur ciptaan-Nya sesuai dengan keinginan-Nya, dan bahwa tidak ada penghalang apa pun yang boleh menyekat-Nya. Tiada seorang pun yang mampu menghindarkan hukum-Nya dari ciptaan-Nya, bahkan Allah SWT adalah Zat Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dia akan mengabulkan permintaan siapa saja yang Ia kehendaki.

2. Apabila Allah memberi cobaan dan ujian, ketika itu mereka menyeru kepada Allah, namun apabila Allah selamatkan mereka dari bahaya mereka Kembali ingkar (Luqman(31):32).

3. Pada dasarnya pada diri setiap manusia sudah ada fitrah ketauhidan, terserah kepadanya sama ada menyelusuri fitrah itu atau menyangkalnya. Berbahagialah yang berpaut kepada fitrah itu dan merugilah siapa yang menafikannya.

4. "Sungguh mengagumkan perkara orang Mukmin, semua perkaranya itu baik, dan hal tersebut hanya ada pada diri orang Mukmin. Ketika ia mendapat kesenangan ia akan bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya, dan ketika ia tertimpa kesengsaraan ia bersabar dan itu adalah kebaikan baginya!.” (HR Muslim).

5. Pada dasarnya manusia beriman akan taat kepada Allah SWT dalam segala perintah-Nya, namun disebabkan bujukan dan rayuan syaitan mereka kadang-kadang mereka termakan dengan hasutan syaitan tersbut. Siapa yang Allah lindungi, dia akan segera bertaubat.

Semoga kita mencari fakta yang benar dan tidak menyeleweng fakta yang Allah turunkan melalui al-Quran. Aamiin!!!...

Rujukan: Tafsir Al-Munir Jilid 4 - Juzuk 7 & 8 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 187 hingga 192.

Dr. Ismail Abdullah, Teras Jernang, Bandar Baru Bangi, 17-09-2022.

Friday, 16 September 2022

KASIH SAYANG ALLAH MELEBIHI MURKA-NYA

Di antara sifat Pencipta-Zat yang kita merasa tenteram berada di dalam ketaatan kepada-Nya-adalah sifat kasih sayang. Allah SWT mewajibkan diri-Nya untuk merahmati makhluk-Nya.

Di antara wujud dari kasih sayang-Nya adalah pengumpulan makhluk pada hari Kiamat untuk memberikan pahala dan siksa. Sebabnya, ketika manusia mengetahui bahwa dia akan mendapatkan sesuatu di akhirat nanti, dia akan melakukan kebaikan dan menjauhi kejelekan. Jadi, adanya rangsangan yang semacam ini adalah cara untuk mendidik manusia dan sebagai bentuk kasih sayang terhadap para hamba. Kalau saja tidak ada rasa takut pada adzab hari Kiamat, pasti dunia ini akan penuh dengan kerusakan, kekacauan dan kejahatan. Ia akan mengalami kegaduhan dan kerusakan pada sistem sosial.

Dengan demikian, adanya suatu ancaman yang seperti ini menjadi wujud dari rahmat Allah. Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim ditegaskan bahwa Rasulullah saw. bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

"Sesungguhnya ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis tulisan di atas Arsy: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku."' (HR Bukhari dan Muslim).

Maksud dari hadits di atas ialah ketika Dia menampakkan qadha-Nya dan menunjukkannya kepada siapa pun apay yang Dia kehendaki. Dia memperlihatkan tulisannya yang ada di Lauh Mahfuzh atau di tempat yang dikehendaki. Isi dari tulisan itu ialah berita kebenaran dan janji yang pasti bahwa rahmat-Nya mendahului dan mengalahkan murka-Nya.

Secara khusus bahwa orang-orang yang merugikan dirinya sendiri ialah mereka yang menjerumuskan diri mereka ke dalam kerusakan, tidak menggunakan akal dan ilmu, serta tidak mengambil pelajaran dari peringatan yang ada, sebagaimana Alah menyebutkan secara khusus bahwa merekalah orang-orang yang tercela dan terhina di antara seluruh manusia pada hari Kiamat.

Penyebab dari kerugian itu adalah tiadanya iman di dalam diri mereka, ertinya mereka tidak meyakini adanya hari kebangkitan dan hari akhir serta tidak takut pada adzab di hari itu. Namun, di dalam ayat ini Allah menjadikan hilangnya keimanan dari diri mereka sebagai akibat dari sikap mereka yang merugikan diri mereka sendiri, padahal faktanya adalah sebaliknya. Terkait hal ini, az-Zamakhsyari mengatakan bahwa makna ayat di atas adalah orang-orang yang merugikan diri mereka-sesuai dengan ilmu Allah-adalah kerana mereka memilih kekufuran dan mereka tidak beriman.

Di dalam al-Qur’an dinyatakan lima ayat yang sangat jelas mengenai kasih sayang Allah dan juga balasan bagi mereka yang engkar,

Bertanyalah (wahai muhammad): "Hak milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi?" Katakanlah: "(Semuanya itu) adalah milik Allah. Ia telah menetapkan atas diriNya memberi rahmat. Demi sesungguhnya Ia akan menghimpunkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada sebarang syak padanya". Orang-orang yang merugikan diri sendiri (dangan mensia-siakan pengurniaan Allah), maka mereka (dengan sebab yang tersebut) tidak beriman. (Al-An’aam (6) : 12).

Dan bagi Allah jualah apa yang ada pada waktu malam dan siang; dan Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. (Al-An’aam (6) : 13).

Katakanlah (wahai Muhammad): "Patutkah aku mengambil (memilih) pelindung yang lain dari Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan Ia pula yang memberi makan dan bukan Ia yang diberi makan?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri kepada Allah (Islam), dan (aku diperintahkan dengan firmanNya): `Jangan sekali-kali engkau menjadi dari golongan orang-orang musyrik itu.'" (Al-An’aam (6) : 14).

Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut jika aku derhaka kepada Tuhanku, (akan dikenakan) azab hari yang besar (hari kiamat)". (Al-An’aam (6) : 15).

Sesiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sesugguhnya Allah telah memberi rahmat kepadanya; dan itulah kejayaan yang jelas nyata. (Al-An’aam (6) : 16).

Ayat-ayat ini menegaskan keterangan yang terdapat pada ayat sebelumnya mengenai penetapan tiga pokok agama, iaitu pertama, pembuktian keberadaan dan keesaan Allah; kedua, penetapan adanya hari kebangkitan; hari akhir dan ketiga, pembalasan amal; serta pengakuan akan kenabian dan risalah Muhammad saw.. Hal itu dilakukan dengan cara pemaparan dalil-dalil yang menunjukkan tiga pokok agama tersebut dengan metode tanya jawab. Ini adalah metode lain dalam rangka mengukuhkan aqidah dalam hati dan menarik perhatian orang lain supaya tidak bosan.

Jika terbukti bahwa Allah SWT adalah pencipta dan yang membuat langit dan bumi beserta semua yang bergerak dan yang diam di langit dan bumi, hal ini menandakan bahwa Dia Mahakuasa untuk menciptakannya kembali, mengumpulkan, dan membangkitkannya.

Ini juga membuktikan bahwa Dia (Allah) adalah Maharaja yang mesti ditaati, Zat yang berkuasa untuk memerintah dan melarang hamba-Nya. Oleh karena itu, harus ada orang yang menyampaikan pesan ini dan itulah tugas seorang nabi. Dengan demikian, pengutusan para nabi dan rasul oleh Allah SWT kepada makhluk adalah hal yang bersifat wajib. Dengan demikian, ayat ini sudah cukup untuk membuktikan tiga asas di atas.

Pada dasarnya, orang-orang musyrik, ketika ditanya kepunyaan siapa langit dan bumi, kepunyaan siapa alam, makhluk, dan semua yang ada di dalamnya? Pertanyaan ini sebagai celaan dan penghinaan kepada mereka. Sebabnya, mereka meyakini bahwa Allah adalah Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah,

"Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, Allah."' (Luqmaan:25).

Kerajaan langit dan bumi bukanlah sekadar kerajaan yang kosong, tetapi ia adalah kerajaan yang mencakup segala sesuatu yang ada di antara keduanya baik yang diam maupun yang bergerak. Semuanya adalah hamba dan makhluk-Nya serta berada di bawah kekuasaan, perlakuan, dan pengaturan-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia. Ia menyebutkan secara khusus sesuatu yang diam di waktu malam dan siang meskipun ia masuk dalam makna apa yang di langit dan apa yang di bumi. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pengaturan Allah SWT juga meliputi hal-hal yang samar.

Semua yang ada di langit dan di bumi tunduk pada pengawasan Allah dan perlakuan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar yang pendengaran-Nya meliputi semua yang kecil dan besar. Dia mendengar jalannya semut hitam di malam yang kelam, di atas batu besar lagi keras. Dia juga Maha Mengetahui, ilmu-Nya meliputi semua yang kecil dan yang besar. Pendengarannya meliputi semua yang bisa didengar seperti ucapan dan suara hamba-hamba-Nya. Ilmu-Nya meliputi semua yang bisa diketahui, seperti gerakan-gerakan makhluk dan rahsia-rahsia mereka. Semuanya ini menghendaki adanya pengawasan Ilahi dan pengelolaan yang sempurna terhadap segala sesuatu.

Kemudian, Allah memerintahkan Nabi-Nya -yang merupakan utusan yang menyampaikan syari'at-Nya-sebuah perintah sebagai bentuk akibat dari apa yang telah di jelaskan sebelumnya. Allah SWT berfirman kepadanya, "Katakan wahai Muhammad, 'Aku tidak menjadikan sesuatu sebagai pelindung, penolong yang dapat memberiku manfaat atau menolak bahaya, kecuali hanya Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah pencipta langit dan bumi tanpa ada yang dapat setara dengan-Nya."' Ini sama seperti firman Allah SWT,

"Katakanlah (Muhammad), Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?"' (az-Zumar: 64).

Adapun penciptaan langit dan bumi, ia sebelumnya berupa kumpulan asap yang kemudian terpisah. Ini juga termasuk dalam makna kata fathara dan syaqqa. Allah SWT berfirman,

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya." (al-Anbiyaa':30).

Allah juga Zat yang memberi rezeki dan menutup pintu rezeki tersebut. Dialah yang memberi nikmat kepada makhluk-Nya, tanpa ada rasa perlu kepada mereka sebab Allah SWT jauh dari sifat perlu kepada semua selain dari-Nya, sebagaimana firman Allah SWT,

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan ogar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh." (adz-Dzaariyyaat:56-58).

Di sini, ada isyarat yang jelas yang mengarahkan manusia agar mereka mencari rezeki dari Allah SWT semata, disertai dengan upaya mencari jalan menuju pintu rezeki tersebut, baik dengan usaha, bekerja, melakukan pengelolaan, penelitian, maupun latihan, bukan dengan meminta kepada selain Allah, baik dia manusia, berhala, maupun patung. Sama saja apakah ia adalah pemimpin atau tidak sebab semua rezeki hamba ada di tangan Allah SWT semata.

Jika telah jelas bagimu-wahai Muhammad dan orang-orang selain kamu-dalil-dalil yang menunjukkan pada Zat yang berhak menjadi Tuhan, disembah, dan dijadikan pelindung, katakan kepada mereka, "sesungguhnya aku diperintahkan oleh Tuhanku yang memiliki sifat-sifat ini agar aku menjadi orang yang pertama kali pasrah, tunduh merendahkan diri, dan taat kepada-Nya." Aku juga dilarang untuk menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun, di antaranya adalah syirik ala Jahiliyyah yang menjadikan berhala sebagai jalan dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menginformasikan balasan bagi orang yang menyalahi perintah dan larangan di atas. Allah berfirman, (قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ) Katakan kepada mereka, "Sesungguhnya aku takut tertimpa adzab pada hari yang sangat mengerikan dan menakutkan jika aku mendurhakai Allah.” Hari Kiamat yang Allah akan menghisab para makhluk dengan hisab yang keras atas amal perbuatan mereka dan akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal. Itulah hari ketika manusia tidak memiliki kuasa apa pun untuk dirinya. Semua perkara pada hari itu adalah milik Allah. Jika peringatan ini diarahkan kepada Nabi utusan Allah, bagaimana dengan manusia yang lain? Siapa yang dapat menolak adzab dari mereka pada hari itu? Allah SWT telah merahmati Nabi dan menyelamatkannya dan itu adalah keberuntungan yang besar yang tidak ada keberuntungan yang lebih mulia dari itu, sebagaimana firman Allah SWT,

"Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia memperoleh kemenangan." (Ali-Imraan:185).

Yang dimaksud dengan kemenangan ialah diperolehnya keuntungan dan terhindar dari kerugian.

Ayat-ayat ini mengukuhkan pokok-pokok aqidah yang mencakup tauhid, hari kebangkitan, balasan, dan kenabian. Ini adalah dalil-dalil yang dijadikan sebagai hujjah untuk membungkam orang-orang musyrik yang ingkar. Pertama-tama dengan menampilkan pengakuan akan adanya Allah yang mereka mengakui hal itu dan mengakui bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah. Kalaupun mereka tidak mengakui hal itu, ada hujjah yang akan membantah pengingkaran mereka.

Jika telah nyata bahwa apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah SWT dan Dia adalah pencipta semuanya, baik berdasarkan pengakuan dari mereka maupun dengan adanya hujjah kepada mereka, dengan begitu, Allah SWT juga berkuasa untuk menyegerakan turunnya siksa dan membangkitkan mereka kembali setelah mati. Namun, Allah SWT telah menetapkan rahmat (kasih sayang) atas diri-Nya sebagai bentuk anugerah dan kurnia dari-Nya. Oleh karena itu, Dia memberi penangguhan kepada manusia sampai mereka sadar kembali. Ini adalah bentuk belas kasih dari Allah kepada orang-orang yang berpaling dan tidak mau menyambut-Nya. Selain itu, hal ini adalah penegasan dari-Nya bahwa Dia Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, tidak menyegerakan hukuman bagi mereka dan menerima taubat mereka.

Di antara bentuk rahmat dari Allah adalah adanya penangguhan sampai hari Kiamat dan pemberian maklumat kepada manusia mengenai pengumpulan mereka pada hari Kiamat untuk memberi pahala bagi orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang durhaka. Peringatan lebih awal itu adalah rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya sebab ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak boleh lepas dari hisab, mereka akan berfikir; memperbaiki amal, dan memperbaiki keimanan mereka.

Kemudian, Allah mencela orang-orang yang merugi, iaitu mereka yang tidak peduli terhadap apa yang dikehendaki oleh ilmu dan akal sehat berupa keimanan dan sikap istiqamah dalam agama dan syari'at Allah. Orang-orang yang merugi itu-karena telah memilih sikap kufur-adalah orang-orang yang tidak beriman.

Jika dalil-dalil yang menunjukkan adanya Tuhan sudah jelas, setiap manusia wajib untuk menyembah-Nya dan menjadikan-Nya sebagai pelindung dan penolongnya dalam rangka merealisasikan kemaslahatan dan melindungi diri dari bahaya, serta pasrah dan tunduk kepada perintah-perintah-Nya. Dialah yang memberi rezeki dan memberi makan. Dialah yang memberikan kurnia bukan yang penerima kurnia. Selain itu, semua manusia dilarang melakukan kemusyrikan dan menjadikan sekutu dan perantara antara dirinya dan Allah.

Setiap manusia wajib memiliki rasa takut kepada adzab Allah pada hari Kiamat sebab ia adalah adzab yang pedih. Barangsiapa yang selamat darinya, dia telah diliputi rahmat dan pertolongan dari Allah. Ini adalah keberuntungan dan keselamatan terbesar bagi manusia. Ya Allah, jadikanlah diriku, keturunanku, bapakku, ibuku, keluargaku, dan guru-guruku termasuk orang-orang yang beruntung.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil daripada kuliah ini ialah:

1. Ditetapkan tiga (3) asas agama iaitu pertama, pembuktian adanya Allah dan ke-Esaan-Nya, kedua, penetapan adanya hari kebangkitan (akhirat) dan pembalasan amal, dan ketiga, pengakuan kenabian dan risalah Nabi Muhammad SAW.

2. Persoalan berikutnya ialah bagaimana menyakinkan umat manusia terhadap ketiga-tiga asas agama (dasar) tersebut bagi menguatkan aqidah dan keimanan mereka kepada Allah SWT.

3. Orang-orang musyrik pun tahu bahwa yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antaranya adalah Allah SWT. Mereka perlu diberikan bukti-bukti dan dalil-dalil bagi memperlihatkan bahwa Zat yang Maha berkuasa, dan Maha mengetahui ialah Allah SWT.

4. Risalah yang ingin Allah SWT sampaikan kepada manusia dikuatkan lagi dengan mengutus para nabi dan rasul yang ikhlas berjuang kerana Allah. Para nabi dan rasul dibekalkan dengan mukjizat yang sesuai dengan zaman mereka bagi menyakinkan umat tentang Zat yang Maha berkuasa itu.

5. Para nabi dan rasul juga mengingatkan kepada yang engkar bahwa pada hari akhirat disediakan siksaan bagi yang menolak ajaran para nabi dan rasul sementara yang beriman akan mendapat balasan yang setimpal dengan amalan mereka.

6. Jika manusia beriman bermakna dia sudah menemui jalan yang baik dan jika dia menolak maka kerugian dari penolakan itu tertimpa atas diri mereka sendiri. Kekufuran mereka tidak sedikit pun mempengaruhi orang-orang yang beriman dan Allah SWT.

7. Allah SWT tidak dapat menerima sama sekali orang-orang yang mensyirikkan Allah SWT dengan sesuatu yang lain yang penuh dengan kelemahan. Perbuatan syirik sebenarnya menyerlahkan kebodohan umat manusia terhadap konsep dan ciri-ciri Allah yang sebenarnya yang terkandung dalam ayatul kursi.

Kredit: Tafsir Al-Munir Jilid 4 - Juzuk 7 & 8 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 148 hingga 154. Dr Ismail Abdullah, Teras Jernang, 16-9-2022.

Wednesday, 18 May 2022

MENGENAI MAKSIAT HATI

Penerbit Zaman (Jakarta) pada tahun 2016 telah mengumpulkan karya Imam Al-Ghazali dari enam makalah iaitu ar-Risalah al-Wa’zhiyyah, Bidayah al-hidayah, al-Adab fi ad-Din, Minhaj al-‘Arifin, Kuldhashah at-Tashnif fi at-Tashawuff, al-Mawa’izh fi al-Ahadits al-Qudsiyyah menjadi sebuah buku yang bertajuk, “Jalan Orang Bijak”.

Buku setebal 332 mukasurat mengandungi empat (4) bab yang masing-masing mempunyai pecahan-pecahan tersendiri. Buku ini diakhiri dengan Bab 5 (Rangkuman karya-karya tasawuf) dan Bab 6 (Nasihat-Nasihat). Semua huraian di dalamnya sangat menarik untuk dikupas.

Elok pada pendapat cetusan minda, kita kupas mengenai maksiat hati yang banyak berlaku ketika ini.

Perkara yang lebih detail terkandung dalam kita Imam Al-Ghazali yang sangat tersohor, Ihya’ Ulumuddin, Ketika beliau membahaskan tajuk, “Hal-hal yang boleh menyelamatkan”.

Ada tiga penyakit hati yang utama iaitu dengki, riya’ dan ujub. Imam Al-Ghazali mencadangkan kita menghapuskan terlebih dulu tiga penyakit utama ini sebelum menghapuskan penyakit-penyakit hati yang lain.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani, Nabi SAW bersabda, “Ada tiga hal yang menghancurkan: kedekut yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dan bangga terhadap diri sendiri”.

Tiga (3) perkara yang membinasakan adalah:

1. Kebakhilan dan kerakusan,

2. Hawa nafsu yang diikuti, dan

3. Seseorang yang membanggakan diri sendiri.

1. Kebakhilan dan kerakusan

Orang yang memiliki sifat buruk ini akan terlalu bergantung pada harta sehingga enggan untuk berinfak atau mengeluarkan hartanya di jalan yang wajib atau pun di jalan yang disunnahkan.

Bahkan sifat “kedekut” ini dapat mengantarkan pada pertumpahan darah, menghalalkan yang haram, berbuat zhalim, dan berbuat tindak maksiat.

Sifat “kedekut” ini benar-benar akan membawa kepada keburukan, bahkan kehancuran di dunia dan akhirat. Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan bahwa penyakit itulah sebab kehancuran.

2. Hawa nafsu yang diikuti

Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu hawa nafsu harus ditundukkan agar tunduk terhadap syari’at Allah Azza wa Jalla. Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi kayu ukurnya.

Maka untuk selamat, orang yang mengikuti hawa nafsu mesti membiasakan dirinya untuk takut kepada Allah Azza wa Jalla sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya. Demikian juga perlu diamalkan dengan ilmu dan zikir.

Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga mesti baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya.

Begitu pula wajib bagi setiap Muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih).

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 44).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Asas agama (Islam) adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”

3. Seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Ujub (bangga diri) artinya ialah perhatian seseorang kepada dirinya dengan pandangan yang sempurna, tetapi lupa kepada nikmat Allah, karena meremehkan orang lain adalah kibr yang tercela. Demikian dinukil ibnu hajar dari Al-Qurthubi. Seorang penyair berkata : Jauhilah penyakit ujub, sesungguhnya penyakit ujub akan mengheret amalan pelakunya ke dalam aliran deras arusnya.

Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada penyakit-penyakit kronik lainnya, seperti:

• Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri, seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya.

• Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah di hadapan Allah yang telah menganugerahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya.

• Terlebih lagi lenyap sikap tawadhu’ di hadapan manusia. • Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jiwanya senantiasa mengajaknya untuk menyatakan bahwasannya dialah yang terbaik, dan apa yang telah diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk dipuji. Berbeza dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk dipuji.

Ibnu Sa’ad menceritakan di dalam kitabnya ath-Thabaqat, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz apabila berkhutbah di atas mimbar kemudian dia khawatir muncul perasaan ujub di dalam hatinya, dia pun menghentikan khutbahnya. Demikian juga apabila dia menulis tulisan dan takut dirinya terjangkit ujub maka dia pun menyobek-nyobeknya, lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keburukan hawa nafsuku.”

Semoga kita tetap berusaha memperbaiki hati setiap masa supaya apabila kita Kembali kepada Allah, maka hati kita ialah hati yang salim (selamat) dari segala dosa dan maksiat. Aamiin…

DrIsbah, Teras Jernang, 18-5-2022.

Rujukan:

[1] Imam Al-Ghazali, “Jalan Orang Bijak”, Zaman, Jakarta (2016).

[2] https://telisik.id/news/3-perkara-yang-dapat-membinasakan-seorang-muslim.