Wednesday, 18 May 2022

MENGENAI MAKSIAT HATI

Penerbit Zaman (Jakarta) pada tahun 2016 telah mengumpulkan karya Imam Al-Ghazali dari enam makalah iaitu ar-Risalah al-Wa’zhiyyah, Bidayah al-hidayah, al-Adab fi ad-Din, Minhaj al-‘Arifin, Kuldhashah at-Tashnif fi at-Tashawuff, al-Mawa’izh fi al-Ahadits al-Qudsiyyah menjadi sebuah buku yang bertajuk, “Jalan Orang Bijak”.

Buku setebal 332 mukasurat mengandungi empat (4) bab yang masing-masing mempunyai pecahan-pecahan tersendiri. Buku ini diakhiri dengan Bab 5 (Rangkuman karya-karya tasawuf) dan Bab 6 (Nasihat-Nasihat). Semua huraian di dalamnya sangat menarik untuk dikupas.

Elok pada pendapat cetusan minda, kita kupas mengenai maksiat hati yang banyak berlaku ketika ini.

Perkara yang lebih detail terkandung dalam kita Imam Al-Ghazali yang sangat tersohor, Ihya’ Ulumuddin, Ketika beliau membahaskan tajuk, “Hal-hal yang boleh menyelamatkan”.

Ada tiga penyakit hati yang utama iaitu dengki, riya’ dan ujub. Imam Al-Ghazali mencadangkan kita menghapuskan terlebih dulu tiga penyakit utama ini sebelum menghapuskan penyakit-penyakit hati yang lain.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani, Nabi SAW bersabda, “Ada tiga hal yang menghancurkan: kedekut yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dan bangga terhadap diri sendiri”.

Tiga (3) perkara yang membinasakan adalah:

1. Kebakhilan dan kerakusan,

2. Hawa nafsu yang diikuti, dan

3. Seseorang yang membanggakan diri sendiri.

1. Kebakhilan dan kerakusan

Orang yang memiliki sifat buruk ini akan terlalu bergantung pada harta sehingga enggan untuk berinfak atau mengeluarkan hartanya di jalan yang wajib atau pun di jalan yang disunnahkan.

Bahkan sifat “kedekut” ini dapat mengantarkan pada pertumpahan darah, menghalalkan yang haram, berbuat zhalim, dan berbuat tindak maksiat.

Sifat “kedekut” ini benar-benar akan membawa kepada keburukan, bahkan kehancuran di dunia dan akhirat. Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan bahwa penyakit itulah sebab kehancuran.

2. Hawa nafsu yang diikuti

Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu hawa nafsu harus ditundukkan agar tunduk terhadap syari’at Allah Azza wa Jalla. Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi kayu ukurnya.

Maka untuk selamat, orang yang mengikuti hawa nafsu mesti membiasakan dirinya untuk takut kepada Allah Azza wa Jalla sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya. Demikian juga perlu diamalkan dengan ilmu dan zikir.

Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga mesti baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya.

Begitu pula wajib bagi setiap Muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih).

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 44).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Asas agama (Islam) adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”

3. Seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Ujub (bangga diri) artinya ialah perhatian seseorang kepada dirinya dengan pandangan yang sempurna, tetapi lupa kepada nikmat Allah, karena meremehkan orang lain adalah kibr yang tercela. Demikian dinukil ibnu hajar dari Al-Qurthubi. Seorang penyair berkata : Jauhilah penyakit ujub, sesungguhnya penyakit ujub akan mengheret amalan pelakunya ke dalam aliran deras arusnya.

Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada penyakit-penyakit kronik lainnya, seperti:

• Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri, seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya.

• Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah di hadapan Allah yang telah menganugerahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya.

• Terlebih lagi lenyap sikap tawadhu’ di hadapan manusia. • Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jiwanya senantiasa mengajaknya untuk menyatakan bahwasannya dialah yang terbaik, dan apa yang telah diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk dipuji. Berbeza dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk dipuji.

Ibnu Sa’ad menceritakan di dalam kitabnya ath-Thabaqat, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz apabila berkhutbah di atas mimbar kemudian dia khawatir muncul perasaan ujub di dalam hatinya, dia pun menghentikan khutbahnya. Demikian juga apabila dia menulis tulisan dan takut dirinya terjangkit ujub maka dia pun menyobek-nyobeknya, lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keburukan hawa nafsuku.”

Semoga kita tetap berusaha memperbaiki hati setiap masa supaya apabila kita Kembali kepada Allah, maka hati kita ialah hati yang salim (selamat) dari segala dosa dan maksiat. Aamiin…

DrIsbah, Teras Jernang, 18-5-2022.

Rujukan:

[1] Imam Al-Ghazali, “Jalan Orang Bijak”, Zaman, Jakarta (2016).

[2] https://telisik.id/news/3-perkara-yang-dapat-membinasakan-seorang-muslim.

AKAL DAN KEMAMPUAN BERADA DI HATI.

Penerbit Zaman (Indonesia) pada tahun 2016 telah mengumpulkan karya Imam Al-Ghazali dari enam makalah iaitu ar-Risalah al-Wa’zhiyyah, Bidayah al-hidayah, al-Adab fi ad-Din, Minhaj al-‘Arifin, Kuldhashah at-Tashnif fi at-Tashawuff, al-Mawa’izh fi al-Ahadits al-Qudsiyyah mejadi sebuah buku yang bertajuk, “Jalan Orang Bijak”.

Buku setebal 332 mukasurat mengandungi empat (4) bab yang masing-masing mempunyai pecahan-pecahan tersendiri. Buku ini diakhiri dengan Bab 5 (Rangkuman karya-karya tasawuf) dan Bab 6 (Nasihat-Nasihat). Semua huraian di dalamnya sangat menarik untuk dikupas.

Pada cetusan minda kali ini, saya tertarik untuk mengupas mengenai maksiat hati.

Dalam sebuah hadits dari An Nu’man bin Basyir ra., Nabi SAW., bersabda yang maksudnya,

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya), itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210.

Para ulama berpendapat, walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bahagian tubuh yang lain, namun baik dan buruknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).

Para ulama berkata bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210.

Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di otak (kepala). Demikian disimpulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah.

Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:

1. Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksanya.

2. Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridho Allah.

3. Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.

Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.

Menurut, Syaikh Sholih Al-Fauzan, semoga Allah memberkahi umur beliau dalam kebaikan dan ketaatan mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, iaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak. Karena hati yang memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak, maka tidak baik pula urusannya.” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).

Karenanya, yang sering Nabi SAW, minta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a,

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi SAW, menjawab, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun boleh menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam riwayat lain dikatakan, “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).

Syaikh Sholih Al Fauzan mengutarakan bahwa rusaknya hati adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat boleh merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan segala yang baik agar baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah. Lihat Al Minhah Ar Robbaniyah, hal. 110.

Moga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 213).

Dalam Al-Qur’an, keadaan hati manusia digambarkan dalam beberapa cara. Misalnya, hati yang tenteram, kerana beriman dan selalu mengingat Allah SWT. "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (Ar-Ra'd: 28).

Ketenteraman hati manusia akan memandu manusia kepada kebaikan dan menghidarinya dari keburukan.

Ada pula hati yang bersih karena seseorang selalu beribadah dengan niat tulus mencari ridha Allah (Asy-Syu'ara':89). Selanjutnya, hati yang berpenyakit. Ini disebabkan kebiasaan berdusta dari orang yang memilikinya. Mereka adalah orang-orang munafik, yang menampakkan kesalehan di hadapan orang beriman dan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Siksaan yang pedih merupakan balasan bagi mereka (Al-Baqarah: 10).

Kupasan mengenai hati dan kemaksiatan yang timbul dari hati sangatlah luas. Punca segala kerusakan yang berlaku di dunia ini ialah kerana rusaknya hati. Tindak tanduk manusia dikendalikan sepenuhnya oleh hati. Sebab itulah Pendidikan yang paling baik ialah mendidik hati dan akal budi. Ini sangat sesuai dengan petikan al-Qur’an dan tuntunan dari hadits Nabi Muhammad SAW.

Semoga kita tetap berusaha memperbaiki hati setiap masa supaya apabila kita Kembali kepada Allah, maka hati kita ialah hati yang salim (selamat) dari segala dosa dan maksiat. Aamiin…

DrIsbah, Teras Jernang, 18-5-2022

Rujukan:

[1] https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

[2] https://www.republika.co.id/berita/qa64zi458/penggambaran-hati-manusia-dalam-alquran.

Thursday, 17 March 2022

PRINSIP CHI (QI) PADA KEDINAMIKAN MANUSIA

Prinsip Yin dan Yang menjadi pegangan kuat kepercayaan kuno orang China selama berabad-abad yang memiliki inti kepercayaan di dalam hukum keseimbangan Yin dan Yang.

Hal ini digambarkan secara jelas dalam I Ching (Kitab Perubahan) yang dimiliki oleh orang China selama berabad-abad. Prinsip Yin Yang ini menekankan akan keharmonian dari alam semesta atau kosmologi (Jung Young Lee, 1996).

Dari prinsip Yin Yang ini muncul energi atau energi “penggerak” dari semua perubahan yang terjadi di dalam alam semesta ini yang disebut dengan “ch’i”. Ch’i inilah yang dianggap nafas atau jiwa manusia yang menjadikan manusia itu hidup dan dinamik.

Konsep pemikiran China tentang Chi dikembangkan oleh para ahli filsuf mereka seperti Lao-tzu, Kong Fu Tzu (Konfusius), Men Zi (Mencius) dan lainnya antara abad enam dan empat sebelum Masehi (Lee, J. Y. 1996). Menurut Kamus Besar China-Indonesia, ch’i (qi) berarti gas, udara, nafas, bau, hawa/cuaca, sikap, semangat, jiwa, kemarahan, dan hina (Mah, 2004).

Menurut Simpkins & Simpkins (2004), kata ch’i sama dengan kata Yunani Pneuma dan kata Sansekerta Prana yang berarti napas, pernapasan, angin, dan spirit yang vital, jiwa. Menurutnya, segala sesuatu di alam semesta, baik yang bergerak dan tidak bergerak, merupakan bagian dari samudra luas ch’i. Segala sesuatu adalah ch’i baik materi padat maupun energy (Kamus Besar China – Indonesia. 1995).

Sedangkan menurut Skinner (2002), “Ch’i, merupakan tenaga yang vital, mengisi dunia pemikiran pengikut filosofi China. Ch’i adalah Tenaga Kosmik yang menghidupkan dan menginfus (memberi nafas) semua hasil cipta alam, memberikan energi kepada manusia, kehidupan kepada alam, pergerakan kepada air dan pertumbuhan kepada tanaman.

Dinamika manusia adalah karena adanya Chi (Qi), sedangkan Ch’i berada di dalam diri orang (Simpkins & Simpkins, 2004).

Menurut Rossbach (1984) ada dua macam Chi (Qi). Dia menyatakan bahwa dalam tulisan Cina Chi membawa dua makna iaitu kosmik dan manusia. Chi kosmik mengandung air, wap, gas, cuaca, dan daya (force). Chi pada manusia pula termasuklah nafas, aura, adab dan tenaga. Kedua-dua jenis Chi ini tidak terpisahkan. Chi pada manusia dipengaruhi oleh langit dan bumi.

Lee (1996) memberikan pengertian Chi bahwa Chi dari segi kosmik dinyatakan sebagai pemikiran Chi, tenaga penting yang merupakan kuasa dan intipati badan. Chi hampir sama dengan ruh, dalam Hebrew dikatakan sebagai “ruach” dan dalam Greek dikatakan sebagai “pneuma” kedua-duanya diterjemahkan sebagai angina atau nafas.

Dari beberapa definisi di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa ch’i dapat diartikan sebagai nafas, angin, roh atau jiwa. Chi ini juga menunjuk kepada nafas atau jiwa manusia dan Ruh Kosmis yang menghidupkan dan memberikan energi di dalam mempertahankan kehidupan di dalam dunia ini.

DrIsbah, Teras Jernang,19-03-2022.

Rujukan

Jung Young Lee, J. Y. 1996. The Trinity in Asian Perspective. Nashville : Abingdon Press.

Kamus Besar China – Indonesia. 1995. Beijing : Pustaka Bahasa Asing, ms. 673.

Mah, Yeow-Beng. 2004. “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004, 344.

Rossbach, S. 1984. Feng Shui. London : Rider, ms. 23.

Simpkins, C. A. & Simpkins, Annellen. 2004. Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah. Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, ms. 106.

Skinner, S. 2002. Feng Shui.Semarang : Dahara Prize, 2002, ms. 39.

Yun, D. C. 1981. Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions (Ed. Keith Crim; Nashville : Abingdon, ms. 738.

38 NASIHAT IMAM AL-GHAZALI

Dalam buku Imam Al-Ghazali yang bertajul, “Jalan Orang Bijak”, terbitan tahun 2016 oleh Penerbit Zaman, Jakarta Imam Al-Ghazali memberikan kita 38 nasihat.

Buku setebal 332 mukasurat dan berukuran 19cm (Panjang) dan 13cm (lebar) sebaiknya menjadi panduan bagi kita umat Islam agar menjadi panduan hidup di dunia dan mendapat keampunan Allah di akhirat.

Secara ringkas, saya turunkan nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali tersebut agarnya ianya menjadi ingatan buat kita bersama.

1. Jangan terlalu leka dengan urusan dunia sehingga lupa akan adanya kematian.

2. Jangan panjang angan-angan. Hiduplah pada dunia nyata dan hadapi reality.

3. Jadilah orang yang kanaah (merasa cukup) dengan pemberian Allah.

4. Rezeki Allah dimakan, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya.

5. Jangan meremehkan taubat. Segera bertaubat apabila melakukan dosa.

6. Manusia dicipta untuk mengabdi diri kepada Allah. Teruskan berada pada jalan Allah.

7. Jangan mengutamakan harta benda dalam hidup, utamakan Allah daripada segala-galanya.

8. Allah mencipta manusia bukan sia-sia, manusia diminta bersabar dalam hidup.

9. Jangan melaknat makhluk kerana laknat itu akan kembali kepada yang melaknat.

10. Berbuat baik dan bersilaturahim dengan semua orang, bukan terhadap orang yang berbuat baik kepada kita saahaja.

11. Jangan tertipu dengan kilauan dunia kerana ianya memang mempersonakan, tetapi tempat kembali yang sebenarnya ialah Allah.

12. Penuhilah janji apabila berbuat janji, jangan sekali-kali ingkar janji yang telah dibuat.

13. Jangan ikuti hawa nafsu kerana hawa nafsu jahat tidak mendekatkan kita kepada Allah.

14. Hampirilah Allah pada setiap Ketika dan jangan sekali-kali durhaka kepada-Nya.

15. Baiki agama setiap masa kerana pahala Allah akan bergantung kepada kekuatan pegangan kita kepada Allah.

16. Dalam menyeru orang lain berbuat baik dan meninggalkan maksiat, maka diri sendiri mestilah terlebih dahulu berbuat demikian.

17. Lakukan apa yang Allah perintahkan dan hindarilah apa yang Allah larang.

18. Mengadu apa-apa masalah hanya kepada Allah dengan memanjatkan doa dan pengampunan.

19. Banyak bersabar dan bersikap tawadhu dalam hidup, pati Allah akan memudahkan jalan-jalan kehidupan kita.

20. Jangan ganggu orang lain, Allah muliakan orang yang baik akhlaknya.

21. Hindari segala dosa walau sekecil mana sekali pun. Hidup akan lebih bahagia apabila kita senentiasa melakukan kebaikan.

22. Belajar kemuliaan daripada orang-orang yang mulia dan memuliakan Allah.

23. Selalulah berzikir kepada Allah, ingat segala nikmat yang telah Allah berikan.

24. Musuhilah syaitan kerana dia adalah musuh yang nyata dalam hidupmu.

25. Anutilah Islam kerana Islam adalah satu-satunya agama yang Allah redhai.

26. Banyakkan bekalan untuk menuju akhirat kerana kematian akan menutup segala pintu berbuat baik.

27. Bayangkan betapa panasnya neraka. Ini akan membuat kita menghindari maksiat dan dosa.

28. Bayangkan betapa indahnya syurga bagi orang-orang yang beriman dan berbuat baik di dunia.

29. Ruh adalah milik Allah, segala apa yang kita dapati di dunia hanyalah pinjaman dari Allah.

30. Jangan mati kecuali dalam kedaan bertakwa kepada Allah dan mengharap balasan syurga dari-Nya.

31. Cinta Allah dan cinta dunia tidak akan pernah Bersatu, oleh itu ambillah dunia untuk keperluan mencintai Allah semata-mata.

32. Bersabarlah sebentar di dunia sementara menunggu kesenangan yang kekal di akhirat.

33. Jangan mencari kemasyhuran melalui amal, buat amal secara ikhlas semata-mata bagi mendapat redha Allah.

34. Berwaspada terhadap amalan yang kita buat, jangan terlalu yakin diterima Allah. Bersifatlah dengan sikap takut dan harapan (khauf wa roja’).

35. Jangan terlalu menerima pujian kerana dalam pujian terselindung rasa ta’jub dan riya.

36. Jangan bermusuh denga utusan Allah (Nabi dan Rasul), siapa yang menentang utusan Allah, maka samalah menentang Allah.

37. Cintailah orang lain seperti mana kamu mencintai dirimu sendiri.

38. Kerjakan kebaikan dan hindari kerja buruk, kerana kerja kebaikan akan mengantar kita ke syurga.

Dekimianlah secara ringkas 38 nasihat Imam Al-Ghazali bagi kebaikan kita semua. Semoga kita dapat melaksanakan semua nasihat yang Imam Al-Ghazali berikan. Aamiin!!!...

DrIsbah, Teras Jernang, 18-3-2022.

Saturday, 22 January 2022

HUKUM SEBAB-AKIBAT

Menurut buku Managemen Bisnis Syariah oleh Parakkasi (2021), segala seuatu yang terjadi dan berubah harus ada sebabnya kerana tidak ada sesuatu yang terjadi atau berlaku di dunia ini tanpa adanya sebab.

Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang Allah SWT firmankan berkaitan dengan berjalanlah di muka bumi dan lihatlah akibat daripada orang-orang yang derhaka, kufur terhadap perintah Allah, membunuh para nabi, membuat munkar tanpa batas dan berbagai lagi kerosakan yang mereka lakukan. Allah SWT mengazabkan mereka dengan azab yang sangat pedih di dunia lagi melalui berbagai cara.

Hukum sebab-akibat (The Law of Causality) dihasilkan oleh penggunaan akal rasional manusia sejak manusia boleh berfikir logik. Ianya bukan teori ilmiah yang dihasilkan secara ujikaji. Dalam Hukum Sebab-Akibat prinsip “the order of events” (urutan kejadian) menjadi landasan kepada Hukum Sebab-Akibat.

Dalam kuliah matematik peringkat universiti dan sekarang sudah diajar di peringkat sekolah menengah mengenai “The Theory of Logic” (Teori Asas Logik). Teori ini dijadikan bab pertama dalam kuliah selama satu semester (4 bulan) supaya pelajar terbiasa dengan berfikir logik.

Teori logik ini sangat penting dalam Matematik Konstruktif (Constructive Mathematics) kerana kita yang membentuk matematik tersebut seperti teori set, fuzzy set dan sebagainya. Matematik begini dibina dari awal, dan berkembang secara logik.

Dalam konteks epistemologi, Hukum Sebab-Akibat adalah sumbangan terbesar ahli falsafah idealisma Greek yang bernama Plato. Tanpa prinsip sebab-akibat, maka tak ada teori filsafah, tak ada sains dan teknologi, tak ada teologi, tak ada sejarah, serta aturan-aturan hukum pun menjadi tak bermakna.

Hukum Sebab-Akibat ini juga disebut sebagai Sunnatullah yang terjadi kepada setiap kejadian (events), baik dari kejadian yang sederhana (simple) kepada kejadian yang kompleks (complex). Semua itu Allah SWT telah nyatakan bahwa pada setiap akibat ada penyebabnya.

Dalam bahasa yang mudah, “setiap kejadian merupakan akibat yang timbul dari serangkaian perbuatan yang saling berkaitan yang menjadi penyebab timbulnya akibat.”

Dalam Surah Ar-Ruum (30), ayat 41, Allah SWT berfirman, “Telah timbul berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat).”

Oleh kerana kejahilan manusia dalam mengendalikan urusan persekitaran, masyarakat dan negara maka akibatnya terjadi banjir, kemarau, salah urus kewangan, salah guna kuasa dan sebagainya. Malah dalam memahami kehendak dan syariat Islam pun ada orang terkenal yang tidak dapat membezakan antara agama yang Allah redhai dengan agama-agama syirik sehingga sanggup melakukan ritual agama lain demi meraih simpati dan undi. Ini mala petaka besar kepada masyarakat dan negara.

Kita hanya sekadar mengingatkan bahwa ada tindakan-tindakan yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkuasa yang akan mengakibatkan kemusnahan alam dan kemanusiaan, namun pihak yang menegur dipersalahkan kerana menggangu mereka mengaut kekayaan negara untuk diri sendiri.

Kita sangat berharap agar mereka yang berkuasa akan sedar terhadap akibat daripada perbuatan mereka yang rakus kuasa dan harta. Nilai kemanusiaan itu lebih penting daripada nilai harta yang diperolehi secara tidak betul.

Semoga Allah SWT menyelamatkan negara kita yang tercinta daripada salah urus negara akan nantinya rakyat marhaen akan menerima akibatnya. Aamiin....

#sunnatullah

#hukumsebabakibat

DrIsbah, Teras Jernang, 22-01-2022

Wednesday, 12 January 2022

BENTUK PEMERINTAHAN YANG PATUT DITAATI

Dalam ayat 59, Surah An-Nisaa’ (4), Allah menyeru, “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu…”

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya - jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu), dan lebih elok pula kesudahannya.”(An-Nisaa’(4), ayat 59).

Dalam Tafsir Al-Munir (Jilid 3 - Juzuk 5 & 6, ms. 135 – 144), Prof Wahbah Zuhaili mengupas mengenai tajuk di atas.

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya sudah termaktub dalam Rukun Iman yang wajib diyakini oleh orang-orang yang beriman. Kertas ini hanya membincangkan mengenai bentuk pemerintahan (Ulil Amri) yang patut ditaati. Hal ini menjadi kekeliruan masyarakat secara amnya.

Adapun sebab turunnya ayat ini kita dapati dari nukilan Imam Bukhari melalui riwayat Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais semasa Nabi mengutusnya dalam satu pengintaian perang."

Imam ad-Dawudi berkata, "Keterangan ini tidak sah dan tidak dapat dinisbahkan kepada Ibnu Abbas, karena Abdullah bin Hudzafah marah dan menyalakan api. Kemudian dia memerintahkan pasukan untuk masuk ke dalam api tersebut. Sebagian pasukan enggan melaksanakan perintah itu dan sebagian yang lain hendak melaksanakannya".

Ad-Dawudi melanjutkan keterangannya, “Apabila ayat ini turun sebelum kejadian tersebut maka bagaimana mungkin perintah ketaatan hanya dikhususkan kepada Abdullah bin Hudzafah. Apabila turun setelah kejadian tersebut, yang tepat untuk dikatakan kepada para pasukan adalah "ketaatan hanya dalam masalah kebajikan," bukannya kata "kenapa kalian tidak taat (kepada pimpinanmu)?"

Ibnu Hajar menjawab keberatan ad-Dawudi tersebut dan menjelaskan bahwa yang ditekankan dalam kisah di atas adalah perbezaan pendapat yang terjadi di antara pasukan. Apakah mereka mesti mengikuti perintah Abdullah bin Hudzaifah untuk masuk ke dalam api atau tidak.

Oleh sebab itu, sangat tepat apabila dalam keadaan seperti ini turun ayat yang memberi petunjuk untuk jalan keluar bagi perbezaan pendapat yang terjadi di antara mereka, iaitu dengan cara merujuk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Keadilan adalah dasar utama pemerintahan. Dengan keadilan, peradaban, pembangunan, dan kemajuan akan tercapai. Akal manusia pun akan terarah dengan baik apabila keadilan ditegakkan. Dengan demikian, keadilan ditetapkan sebagai salah satu dasar pemerintahan dalam Islam. Dalam suatu masyarakat keadilan merupakan keperluan utama. Dengan keadilan, orang-orang lemah dapat memperoleh haknya dengan tepat dan orang-orang yang kuat tidak akan menganiaya orang-orang lemah sehingga keamanan dan keteraturan sistem dapat terjaga. Agama-agama samawi sepakat dalam masalah kewajiban menegakkan keadilan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin dan para pembantunya yang terdiri dari menteri, pegawai dan hakim harus disiplin menegakkan keadilan supaya semua hak dapat terlindungi dan dapat disalurkan.

Banyak ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi yang menerangkan pentingnya menegakkan keadilan. Di antaranya adalah firman Allah SWT, antaranya ialah:

1. "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (an-Nahl:90).

2. “Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya." (al-An'aam:152).

3. "Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." (al-Maa'idah:8).

4. "Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil." (al-Maa'idah:8).

5. Allah juga memerintahkan Nabi Dawud untuk berlaku adil, iaitu dalam firman-Nya, "Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil." (Shaad:26).

6. Anas juga meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, "Umat ini akan terus berada dalam kondisi baik, selagi dalam berbicara mereka selalu jujur apabila menetapkan hukum mereka adil dan selagi dimintai rasa kasih sayang mereka mau memberikan rasa kasih sayang itu."

7. Selain daripada itu Allah juga mengancam kezaliman dan juga orang-orang yang berbuat zalim. Di antaranya adalah dalam firman-Nya, "Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim." (Ibraahiim:42).

8. "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah." (ash-Shaaffaat: 22).

Kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan perkara yang dapat menyebabkan dia selalu berdisiplin dalam menjaga amanah dan menetapkan hukum secara adil, iaitu taat kepada Allah dengan cara melaksanakan hukum-hukum-Nya, taat kepada Rasul-Nya yang bertugas menerangkan hukum-hukum Allah, dan taat kepada para pemimpin (Ulil Amri). Ini merupakan prinsip dasar ketiga dalam pemerintahan Islami.

Siapakah yang dimaksud dengan Ulil Amri? Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri para pemimpin dan penglima perang. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ulul-Amri adalah para ulama yang bertugas menerangkan hukum-hukum syara' kepada manusia.

Semua pendapat tersebut adalah benar dan sesuai dengan makna lahiriah ayat. Oleh sebab itu, taat kepada pemimpin politik pimpinan perang, dan pemimpin yang mengatur urusan negara adalah wajib. Begitu juga wajib hukumnya menaati para ulama yang bertugas menerangkan hukum-hukum agama, mendidik rakyat dalam masalah agama dan juga melakukan amar makruf nahi munkar.

Ibnu al-Arabi berkata, “Menurutku, pendapat yang tepat adalah pendapat yang mengatakan bahwa maksud Ulil Amri adalah para pemimpin dan para ulama. Para pemimpin mempunyai kewajiban untuk memerintah dan menetapkan hukuman. Adapun ulama adalah orang yang berkebolehan untuk ditanya (dalam permasalahan agama). Dia wajib menjawab dan fatwanya wajib dilaksanakan."

Ar-Razi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah Ahl al-Halli wa al-Aqdi (sekumpulan pakar yang mempunyai tugas menetapkan aturan atau membatalkannya). Dengan demikian, ayat tersebut menjadi dalil bagi ijma ulama. Apabila ada pertentangan dan perbedaan pendapat antara kalian dengan Ulil Amri dalam masalah agama dan penyelesaiannya tidak ada dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah, hendaknya masalah itu dicarikan rujukan dengan berpatokan kepada kaidah-kaidah umum yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Pendapat yang sesuai dengan kaidah umum dapat dilaksanakan, sedangkan yang bertentangan dengan kaidah umum tersebut harus ditinggalkan. Cara seperti ini dalam ilmu ushul fiqih diistilahkan dengan prosedur qiyaas.

Penggunaan qiyaas diakui kebenarannya oleh Rasulullah saw. Ketika beliau mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman untuk menjadi Qadhi, beliau bertanya kepadanya, "Bagaimana kamu akan menetapkan hukum jika terjadi suatu permasalahan?" Muaz menjawab, "Saya akan menetapkan hukum dengan berdasar kitab Allah". Kemudian Rasul kembali bertanya, "fika dalam Al-Qur'an tidak ada keterangannya?" Muaz menjawab, "Saya akan putuskan berdasarkan sunnah nabi Allah". Rasul kembali bertanya, 'Apabila tidak ada keterangan baik dalam Al-Qur'an maupun Sunnah Rasulullah?" Muaz menjawab, "Saya akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan mengabaikannya." Kemudian Rasulullah saw. menepuk dada Muaz dan berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk utusan Rasulullah kepada apa yang diridhai oleh Rasulullah."

Ayat di atas juga memberi isyarat bahwa apabila perkara yang dipertentangkan tersebut ada aturan hukumnya dalam nash syara' (Al-Qur'an dan Sunnah), pihak-pihak yang bersengketa harus mematuhi aturan yang ada dalam nash syara' tersebut. Namun apabila tidak ada keterangan dalam nash syara', boleh melakukan ijtihad.

Allah memerintahkan umat Islam untuk mencari jalan keluar permasalahan yang dipertentangkan dengan cara mencari dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Itu jika memang umat Islam beriman kepada Allah dan hari akhir. Orang yang benar-benar beriman tidak akan mengutamakan hukum selain hukum yang telah Allah tetapkan. Dalam mengambil keputusan dia juga akan selalu mempertimbangkan efek ukhrawinya dan akan lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada kemewahan dunia. Dalam ayat ini juga tersirat satu ancaman Allah kepada orang-orang yang melanggar aturan dan tidak mau menaati Allah serta Rasul-Nya. Yang jelas ayat ini memerintahkan umat Islam untuk mengembalikan semua perselisihan yang terjadi kepada aturan Allah dan Rasul-Nya sehingga ayat ini senada dengan firman Allah, "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan." (an-Nisaa': 65).

Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa taat kepadaku, dia taat kepada Allah, dan barangsiapa menentangku, dia menentang Allah, dan barangsiapa taat kepada amirku maka dia taat kepadaku, dan barangsiapa menentang amirku, maka dia menentangku." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam firman Allah, "Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (an-Nisaa': 59).

Ada beberapa kesimpulan yang boleh kita ambil, antaranya ialah:

1. Menetapkan hukuman dengan adil. Ayat di atas memang ditujukan kepada para pemimpin dan hakim, yang juga mencakup semua manusia. Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Di hari Kiamat, orang-orang yang adil akan berada di mimbar yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Allah yang Maha Pengasih. Mereka juga akan berada di sebelah kanan orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, adil terhadap keluarga dan juga terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.”

Rasulullah saw. juga bersabda, "Setiap kalian adalah pemelihara dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipelihara. Seorang pemimpin adalah bertugas memelihara (rakyatnya), dan dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai urusan rakyatnya; seorang suami juga bertugas sebagai pemelihara keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai urusan keluarganya; seorang istri juga bertugas memelihara rumah suaminya, dia akan dimintai tanggung jawab atas tugasnya; seorang hamba sahaya bertugas memelihara harta tuannya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas tugasnya. Ketahuilah setiap kalian adalah pemelihara, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas peliharaannya." (HR Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dari lbnu Amr).

Dalam hadits ini, Rasulullah saw. menjadikan semua orang sebagai pemelihara dan pemimpin sesuai dengan tugas dan tingkatannya. Orang yang pandai juga punya tanggung jawab terhadap tugasnya. Apa yang dilakukan oleh orang alim seperti mengeluarkan fatwa, menetapkan hukum, menerangkan hukum halal dan haram, menjelaskan perkara yang wajib dan sunah, sah dan tidaknya.

Allah SWT adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, sebagaimana yang Allah jelaskan, "Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaahaa: 46).

Allah mendengar hukuman-hukuman yang diputuskan oleh para hakim, pemimpin dan lain-lain, dan Dia akan membalas keputusan itu. Dia juga melihat apakah seorang hamba menjalankan amanah dengan baik atau mengkhianatinya, dan kemudian Dia akan membalasnya.

2. Setelah Allah memerintahkan para pemimpin dan para hakim untuk menjalankan amanah dengan baik serta menetapkan hukum dengan adil, Allah memerintahkan semua rakyat untuk; pertama, taat kepada-Nya, iaitu dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kedua, taat kepada Rasul-Nya, dan ketiga, taat kepada para pemimpin.

Namun perlu ditegaskan bahwa kewajiban menaati pemimpin adalah dalam perintah-perintah yang memang wajib ditaati, bukan dalam perintah untuk bermaksiat kepada Allah. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, "Seorang imam wajib melaksanakan pemerintahan dengan adil dan menjalankan amanah dengan benar. Apabila dia sudah melakukannya, kaum Muslimin wajib menaatinya. Hal ini karena Allah memerintahkan kita untuk menjalankan amanah dengan benar dan juga bersikap adil, kemudian Dia memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin."

Taat kepada ahli Al-Qur'an, ahli llmu, ahli fiqih, dan ulama agama juga wajib hukumnya. Ibnu Kaisan berkata, "Mereka adalah orang yang mempunyai akal dan pendapat untuk mengurus urusan-urusan manusia (masyarakat)." Namun pendapat yang tepat adalah pendapat yang pertama karena ulama merupakan sumber penetapan hukum dan perintah. Sementara itu, akal -meskipun merupakan penopang agama dan kehidupan dunia- tidak sesuai dengan makna lahiriah ayat yang kita bahas.

Apabila terjadi perbedaan pendapat di antara umat dan pemimpinnya, jalan keluarnya adalah merujuk kepada Al-Qur’an atau kepada Rasulullah -disaat beliau masih hidup, bisa langsung bertanya kepadanya. Namun setelah beliau meninggal, dengan cara melihat sunnahnya. Dengan demikian, ayat ini senada dengan ayat, "(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amry'." (an-Nisaa': 83).

Dan juga sesuai dengan firman Allah, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (an-Nuur:63).

Supaya orang mau merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dalam diri orang tersebut harus ada keimanan kepada Allah dan hari akhir terlebih dahulu. Efek dan akibat yang ditimbulkan dari merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah lebih baik daripada berkelanjutan dalam sengketa dan pertentangan.

3. Melalui ayat ini, para ulama juga menyimpulkan bahwa sumber hukum dalam Islam ada empat, iaitu Al-Qur'an, Sunnah, ijma dan qiyas. Sebagian hukum ada yang diterangkan secara jelas dalam Al-Qur'an atau Sunnah sehingga kita wajib mematuhinya dan ini sesuai dengan firman Allah (‘athiuullaha wa athiuurasula) Yang dimaksud dengan sunnah adalah semua perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasul saw..

Adakalanya juga hukum tersebut merupakan hasil kesepakatan Ahl al-halli wa al-‘Aqdi berdasarkan kepada dalil-dalil syara’ yang mereka gunakan, dan ini sesuai dengan firman Allah (wa ulil amri minkum). Adakalanya hukum tersebut tidak diterangkan secara jelas dalam Al-Qur’an dan juga tidak disepakati ulama sehingga jalan untuk menetapkannya adalah dengan ijtihad dan qiyas iaitu membahas masalah-masalah yang diperselisihkan dengan berpatokan kepada kaidah-kaidah umum yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, (faaintanaza’tum fii shaiinn farudhuuhu ilallahi wa ar-rasuuli).

Adapun sumber-sumber hukum yang lain seperti istihsaan (yang digunakan oleh madzhab Hanafi), maslahah mursalah (yang digunakan oleh madzhab Maliki) dan istishaab (yang digunakan oleh madzhab Syafi'i) pada hakikatnya sudah tercakup dalam sumber hukum yang empat di atas.

#pemerintahanislam

#pemerintahadil

DrIsbah, Teras Jernang, 14-01-2022.

Rujukan:

Tafsir Al-Munir Jilid 3 - Juzuk 5 & 6, ms. 135 - 144.

Tuesday, 5 October 2021

NILAI KEHIDUPAN

Michel de Montaigne pernah “Nilai kehidupan tak bergantung kepada berapa hari kita hidup, tetapi nilainya ada pada apa yang kita buat untuk hidup… Sama ada tercapai kepuasan dalam hidup tidak bergantung berapa lama kita hidup, tetapi pada daya usaha yang kita lakukan. (The value of life lies not in the length of days, but in the use we make of them... Whether you find satisfaction in life depends not on your tale of years, but on your will).

Apatah lagi, kita hidup di dunia ini hanyalah sementara dan yang kekal adalah di akhirat kelak. Justeru itu, cuba lihat diri kita ketika ini adalah kita banyak memberi manfaat kepada orang lain atau sebaliknya?

Dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW pernah bersabda; “Sebaik-baik manusia adalah orang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR Ibn Hibban).

Berdasarkan hadis itu, Allah SWT memuliakan manusia yang sentiasa berbuat kebaikan yang memberi manfaat kepada orang di sekelilingnya.

Semakin banyak kemanfaatan yang boleh kita berikan kepada mereka, bermakna semakin baik pula kedudukan kita di sisi Allah SWT mahupun di sisi manusia.

Tidak perlu risau tentang berapa umur kita kerana ianya hanya sebuah angka, tetapi binalah suasana positif di sekitar kita atau pada lingkungan kita. Jauhkan sifat negative kerana ianya banyak membawa kemudaratan daripada kebaikan.

Paling penting dalam melayari hidup ialah jangan putus hubungan kita dengan Allah SWT melalui amalan-amalan yang baik dan juga jangan putus hubungan kita dengan manusia melalui segala kebaikan. Tidak rugi memberi senyuman kerana ianya percuma (gratis), senyuman lahir daripada hati yang bersih.

Mari kita hidup dengan memberi nilai kebaikan kepada kehidupan dan jangan kita layan sikap-sikap negative yang akhirnya membawa kehancuran kepada kehidupan kita.

Semoga kita termasuk dalam manusia yang berguna kepada manusia yang lain. Aamiin!!!…

#cetusanminda

DrIsbah, Teras Jernang, 05-10-2021